Loading...
Cerpen Persahabatan - Rinduku Kenanganku

Cerpen Persahabatan - Rinduku Kenanganku

Rinduku Kenanganku
oleh: Rica Okta Yunarweti

               Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore menciptakan daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan saya gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, menciptakan hidupku lebih berarti.
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, saya sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

* * *
Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, sehabis pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut alasannya yaitu selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di daerah biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, amis banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, saya dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan bersahabat lemari beling yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia mencicipi tenangnya dunia di bahari lepas.

* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya alasannya yaitu takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas dingklik yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia mencicipi sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang galau dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari dingklik tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangun ke daerah tidur dan beristirahat.

* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, menciptakan siswi Sekolah Menengan Atas ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh positif membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar saya kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga saya gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan sobat yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan alasannya yaitu tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan bawah umur yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan perilaku mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak bisa terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang renta Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan niscaya penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa berguru bareng, kan kau udah komitmen kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kau niscaya sembuh. Semangatlah, saya akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong saya bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke saya ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu ketika kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"

* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kau sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan ibarat anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan talenta pemain biola, saya ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak lezat didengar. Mereka menertawakanku, padahal saya gres saja pindah ke sekolah ini jadi saya masih belum berilmu memainkan alat musik ibarat biola ini..”
               “Kamu sudah ahli kok, kau bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… saya hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang terdiam segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da problem ya? Tidak biasanya kau ibarat ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu ibarat ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan tampaknya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari yaitu guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau mempunyai jiwa keibuan, walaupun dia belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, menciptakan ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menuntaskan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat kebanggaan dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam festival lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, bunyi mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas belahan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kau sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai aben kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana

* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya mencakup kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak gampang untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, tidak mengecewakan lah, agak mendingan.” Dengan bunyi datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kau di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi saya diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring ketika ini yaitu sahabatku.”
               “Sebenarnya, kau sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang pribadi terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini saya tak akan menciptakan kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kau masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kau cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva sobat basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy mencicipi halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan sehabis semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, niscaya mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berkembang menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang renta Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin saya sudah diperbolehkan pulang kalau kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……

* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun saya tertawa, tapi saya tetap mencicipi bila hati ini menangis melihat nya tersenyum.
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang gres dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah tetapkan untuk menginap. Mereka terbaring di daerah tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan daerah mereka duduk. Sedangkan Lizy berkemas-kemas di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya membuktikan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua wacana kita” sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan dongeng wacana kita
Akan tiada lagi sekarang tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di ketika kita tertawa bersama
Ceritakan semua wacana kita

Ada dongeng wacana saya dan dia
Dan kita bersama ketika duu kala
Ada dongeng wacana masa yang indah
Saat kitaberduka ketika kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana ibarat di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan saya gres ingat. Dulu ketika saya melukis sendiri di sini saya kagum dan ingin tau siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya alasannya yaitu sejak saya tinggal di sini saya sangat kesepian. Dan ketika saya menemukan daerah indah ini, setiap sore di waktu luangku, saya bermain biola. Kebetulan, saya melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang menciptakan program ini dan kalian juga yang mendapat kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, saya juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika saya pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kau Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kau bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang saya bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin menciptakan hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan pribadi duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin program kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong saya ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa bersahabat sama pemuda popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kau ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka gres saling mengenal, tapi mereka ibarat mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.

* * *
               Waktu yang sempurna ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani planning kedua mereka. Mereka sudah mengatur seni administrasi supaya lukisan Diana laris terjual. Hampir 2 ahad penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul tidak mengecewakan banyak, dan segera mereka berikan pada orang renta Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, balasannya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka tiba ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak sanggup dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang yaitu anak semata wayang orang tuanya.
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit alasannya yaitu keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya mempunyai tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, menciptakan para siswa harus menunggu hingga hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dihentikan membawa handphone, bunyi di seberang membawa informasi buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak sanggup tertolong lagi alasannya yaitu penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang renta Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua yaitu kehendak-Nya. Orang renta Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan dongeng wacana kita
Akan tiada lagi sekarang tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang renta Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang renta angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa ingin tau menciptakan ia segera membuka dan membacanya ibarat sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah mempunyai mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan ibarat sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu ketika kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker alasannya yaitu fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi saya salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” balasannya selesai”
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah alasannya yaitu di sekitar goresan pena itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan daerah inilah saya dan sahabatku membuatkan walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI

RINDUKU KENANGANKU
oleh: Rica Okta Yunarweti

               Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore menciptakan daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan saya gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, menciptakan hidupku lebih berarti.
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, saya sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

* * *
Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, sehabis pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut alasannya yaitu selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di daerah biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, amis banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, saya dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan bersahabat lemari beling yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia mencicipi tenangnya dunia di bahari lepas.

* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya alasannya yaitu takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas dingklik yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia mencicipi sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang galau dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari dingklik tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangun ke daerah tidur dan beristirahat.

* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, menciptakan siswi Sekolah Menengan Atas ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh positif membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar saya kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga saya gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan sobat yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan alasannya yaitu tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan bawah umur yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan perilaku mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak bisa terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang renta Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan niscaya penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa berguru bareng, kan kau udah komitmen kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kau niscaya sembuh. Semangatlah, saya akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong saya bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke saya ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu ketika kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"

* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kau sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan ibarat anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan talenta pemain biola, saya ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak lezat didengar. Mereka menertawakanku, padahal saya gres saja pindah ke sekolah ini jadi saya masih belum berilmu memainkan alat musik ibarat biola ini..”
               “Kamu sudah ahli kok, kau bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… saya hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang terdiam segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da problem ya? Tidak biasanya kau ibarat ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu ibarat ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan tampaknya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari yaitu guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau mempunyai jiwa keibuan, walaupun dia belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, menciptakan ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menuntaskan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat kebanggaan dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam festival lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, bunyi mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas belahan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kau sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai aben kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana

* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya mencakup kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak gampang untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, tidak mengecewakan lah, agak mendingan.” Dengan bunyi datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kau di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi saya diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring ketika ini yaitu sahabatku.”
               “Sebenarnya, kau sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang pribadi terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini saya tak akan menciptakan kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kau masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kau cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva sobat basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy mencicipi halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan sehabis semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, niscaya mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berkembang menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang renta Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin saya sudah diperbolehkan pulang kalau kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……

* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun saya tertawa, tapi saya tetap mencicipi bila hati ini menangis melihat nya tersenyum.
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang gres dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah tetapkan untuk menginap. Mereka terbaring di daerah tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan daerah mereka duduk. Sedangkan Lizy berkemas-kemas di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya membuktikan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua wacana kita” sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan dongeng wacana kita
Akan tiada lagi sekarang tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di ketika kita tertawa bersama
Ceritakan semua wacana kita

Ada dongeng wacana saya dan dia
Dan kita bersama ketika duu kala
Ada dongeng wacana masa yang indah
Saat kitaberduka ketika kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana ibarat di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan saya gres ingat. Dulu ketika saya melukis sendiri di sini saya kagum dan ingin tau siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya alasannya yaitu sejak saya tinggal di sini saya sangat kesepian. Dan ketika saya menemukan daerah indah ini, setiap sore di waktu luangku, saya bermain biola. Kebetulan, saya melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang menciptakan program ini dan kalian juga yang mendapat kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, saya juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika saya pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kau Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kau bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang saya bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin menciptakan hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan pribadi duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin program kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong saya ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa bersahabat sama pemuda popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kau ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka gres saling mengenal, tapi mereka ibarat mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.

* * *
               Waktu yang sempurna ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani planning kedua mereka. Mereka sudah mengatur seni administrasi supaya lukisan Diana laris terjual. Hampir 2 ahad penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul tidak mengecewakan banyak, dan segera mereka berikan pada orang renta Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, balasannya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka tiba ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak sanggup dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang yaitu anak semata wayang orang tuanya.
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit alasannya yaitu keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya mempunyai tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, menciptakan para siswa harus menunggu hingga hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dihentikan membawa handphone, bunyi di seberang membawa informasi buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak sanggup tertolong lagi alasannya yaitu penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang renta Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua yaitu kehendak-Nya. Orang renta Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan dongeng wacana kita
Akan tiada lagi sekarang tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang renta Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang renta angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa ingin tau menciptakan ia segera membuka dan membacanya ibarat sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah mempunyai mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan ibarat sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu ketika kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker alasannya yaitu fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi saya salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” balasannya selesai”
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah alasannya yaitu di sekitar goresan pena itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan daerah inilah saya dan sahabatku membuatkan walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI

Demikian cerpen persahabatan yang bisa di bagikan kali ini, semoga bermanfaat.
Sumber http://eposlima.blogspot.co.id/
Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Alasannya Ialah Cinta

Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Alasannya Ialah Cinta

Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta
oleh: Arum Nadia Hafifi

Cinta itu memang kadang menciptakan orang lupa akan segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang kita miliki. Bagi kaum perempuan mengasihi itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan sesorang yang belum tentu mengasihi kita tapi terimalah orang yang sudah mengasihi kita apa adanya. Mencintai tapi tak dicintai itu menyerupai olahraga lama-lama supaya kurus tapi hasilnya nggak kurus-kurus. Belajarlah mengasihi diri sendiri sebelum anda mengasihi orang lain.

Gue Amel siswa kelas X. Dulu gue selalu menolak dan mengabaikan orang yang mengasihi gue, tapi kini malah tebalik gue selalu diabaikan sama orang yang gue cintai.

Gue suka sama sahabat sekelas gue dan plus beliau itu sahabat dekat gue, udah tidak mengecewakan lamalah. Cowok itu namanya Nino anak rohis. Gue suka sama beliau berawal dari perkenalan terus berteman lama-lama dekat dan karenanya gue jadi jatuh cinta gini.

Oh iya gue punya temen namanya Arum, beliau temen gue dari SMP. Arum gue dan Nino itu berteman dekat semenjak masuk SMA.

Suatu hari gue ngeliat Arum sama Nino itu bercanda bareng dan mereka bersahabat banget menyerupai orang pacaran. Jujur gue cemburu, tapi gue nyembunyiinn itu dari Arum.

Lama-lama capek juga mendam rasa suka kayak gini. Akhirnya gue mutusin untuk dongeng sama Arum.

``Rummmm gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa``

``Ngomong apa?`` tanya Arum

`` Jujur gue suka sama Nino udah lama, dan gue cemburu kalo lo dekat sama Nino!`` Jawab
Amel

`` Lo suka Nino? Serius?`` Tanya Arum

`` Iya, tapi lo jangan bilang Ninonya`` gertak Amel

`` Iyaiya maaf ya kalo gue udah buat lo cemburu``

`` Okee ``

Amel makin usang makin dekat dan Amel susah untuk ngelupain Nino. Amel berfikir Nino nggak akan pernah jatuh cinta sama Amel. Walau Amel udah ngerasa menyerupai itu tapi beliau tetap berjuang. Tanpa disadari Arum ternyata juga suka sama Nino.

Amel mengetahui kalo Arum suka sama Nino. Nggak disengaja Amel membaca buku diary Arum. Disitu tertulis curhatan Arum wacana perasaannya kepada Nino.

Setelah Amel membaca buku diary Arum, beliau merasa kecewa sebab temen sendiri juga suka sama pemuda yang sama. Tapi Amel berfikir rasa suka itu datangnya tiba-tiba jadi siapa pun berhak untuk suka sama Nino. Amel tetap terus berjuang mengambil hati Nino, walau harapanya kecil.

Di taman sekolah Amel melihat Arum dan Nino sedang berincang-bincang, tapi ini beda mereka terlihat serius. Amel ingin tau dan karenanya ia nguping dibalik pohon.

``Ruummm gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue?`` Tanya Nino

Arum kaget beliau galau harus jawab apa, tapi karenanya Arum mendapatkan Nino jadi pacarnya tanpa memikirkan perasaan Amel sahabatnya sendiri.

`` Iya saya mau`` Jawab Arum

Amel yang mendengar tanggapan Arum dibalik pohon kaget, beliau tak menyangka sahabatnya akan tega. Tanpa berfikir Amel keluar dari belakang pohon.

`` Rumm lo pacaran sama Nino? Congrast ya lo udah bikin gue sakit hati``

Arum dan Nino kaget tiba-tiba Amel muncul dari belakang pohon dan bilang sperti itu.

`` Maafin gue Mell, tapi gue cinta sama Nino``

`` Yaudahlah ``

Amel pribadi pergi meninggalkan Arum dan Nino. Perasaanya campur aduk nggak karuan, beliau masih galau kenapa temannya tega melaksanakan hal itu. Padahal Arum tau kalo Amel udah usang ngejar-ngejar Nino.

Persahabatan sanggup hancur begitu saja sebab cinta. Utamakan sahabat mu daripada pacarmu sebab orang yang bakal selalu ada disaat kau bahagia dan susah itu sahabat. Persahabatn yang dijalin cukup usang sanggup hancur seketika sebab duduk perkara cinta.

Demikian cerpen persahabatan yang sanggup saya sharing kali ini, biar sanggup menjadi bacaan yang menarik.
Sumber http://eposlima.blogspot.co.id/
Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat

Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat

Titipan Manis Dari Sahabat
Oleh : Chacha

    Nurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tomboy itu, sangat berbeda dengan huruf Caca yang feminim dan lugu. Mereka bertemu di salah satu asrama di sekolah mereka.
    Saat dihari jadi Caca, Nurul pamit ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat sahabatnya itu. Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat yang seharusnya dia tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi dengan Nurul?


               “Aku luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak dikala melihat papan pengumuman, termasuk juga Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca.
               “Ih…nggak nyangka saya lulus juga, Sekolah Menengan Atas lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan pribadi memikirkan Sekolah Menengan Atas mana yang pantas buat dia.
               “Hai Ca, kau lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya
               “Dimana ajalah yang penting sanggup sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan
               “Oooo…ya udah, saya pulang dulu yah”
               “Yah, saya juga dah mau pulang”
Sesampainya dirumah Caca…
               Caca memberi salam masuk rumahnya dan pribadi menuju kamar mungilnya. Dalam perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan seorang Udstazt ntah perihal apa. Caca yang hambar berjalan terus kekamarnya. Tak usang kemudian Ibu Caca pun memanggil….
               “Caca…Ayah ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak”
               “Iya bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya.
               Akhirnya Caca pun keluar…
               “Napa bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya
               “Kamu lulus?” Tanya Ibunya kembali
               “Iya dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di sekolah ternama deh” Jawab Caca percaya diri
               “Alhamdulillah, ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak
               “Kenapa bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya
               “Gini nak, kau dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati
               “Loh ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya perihal asrama kurang bagus
               “Di asrama itu anggun Ca, sanggup berdikari dan yang lebih anggun lagi sanggup tinggal bareng teman-teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama juga bagus” Kata Ayah Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu
               “Yaaaah ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya tersayang
               2 bulan telah berlalu, setelah mengurus semuanya untuk memasuki asrama…
               Caca pun memasuki sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan di serambi-serambi asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya. Akhirnya hingga juga….
               “Ayah, ini asrama Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju
               “Iya, kenapa?” Jawab Ayah Caca dan kembali bertanya
               “Tidak kenapa-napa ko’, namanya juga berguru mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-katanya menyinggung Ayahnya.
               “Jadi ayah tinggal nih?”Ujar Ayah Caca
               “Iya ayah, Caca kan mau berdikari masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit bercanda
               “Ya Udah, Ayah tinggal dulu”
               “Baik-baik ya anak Ibu, jangan nakal” Ujar Ibu berpesan
               Akhirnya dia pergi juga setelah cipika cipiki, kini tinggal Caca yang merasa gila terhadap penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa menyerupai yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia senior deh.
               “Hai..Siswi gres juga yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang lurus
               “Hai juga..Iyah saya gres disini, namaku Nurul Utami, sanggup dipanggil Nurul dan itu kaka’ saya Salsabila udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku dirinya berjulukan Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi.
               “Aku Marsya Aqinah, sanggup dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar, trus yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik membereskan baju-bajunya kelemari mungilnya
               “Ntah lah, orang gres juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca
               “Hai saya Nurul, itu temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kau siapa?” Tanya Nurul dengan cerewetnya plus asal-asalan.
                “Woi…aku Caca, bukan Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun
                “Iya..iya.., itu Caca. Kamu belum jawab nama kau sapa?” Tanya Nurul lagi
                “Aku Miftahul Jannah, sanggup dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat. Nurul pun membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan perilaku yang sangat bersahabat.
               Sekarang Caca tau kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah alasannya ada Nurul yang gokil banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, niscaya ada Nurul dengan perilaku konyolnya menciptakan Caca tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada Nurul sebagai sahabat curhatnya. Seperti dikala ini….
               “Rul, ada nomer gres neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal saya dah usang dan kini dia cari rimba saya dimana gitu” Cerita Caca menciptakan Nurul kelepasan
               “Ha..ha..ha..ha..ha..ha.., beritahu aja dari hutan rimba”
               “Nurul, saya serius tau”
               “Aku duarius, ha..ha..ha”
               “Nurul kau ngebete’in”
               “sori.. sori.., gini.. kau jangan pribadi tergoda gombal dia gitu, ntar dijahatin gres tau rasa” Ucap Nurul menasehati, menyerupai ibu-ibu ‘hihihi’
               “Ntar kalo saya tergoda gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak menirukan iklan yang di TV dan sanggup menciptakan Nurul jengkel
               “Kamu ini diseriusin malah becanda”
               “Duluan juga kau Rul, ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya menciptakan malapetaka bagi dirinya itu, yakni dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling lempar-lempar bantal hingga alhasil mereka kecapean dan tertidur juga.
               “Damainya dunia kalo mereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan mereka
Seminggu kemudian……..
               “Nuruuuul, tau ga’ saya jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen saya dari SMP, saya jadiannya di café punya Meri, ih bahagia deh” Cerita Caca
               “Eh cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar saya yang ngajarin dia, he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum
               “Siplah, eh Ical punya sahabat cuakep abis, saya comblangin ke kau yah” Usul Caca
               “Nggak Ah, masih bahagia dengan masa juomblo” Kata Nurul
               “Jomblo, bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan
               “Iya…iya…yang itulah, he..he..he..” Kata Nurul
               “Kamu harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku sanggup ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca
               “iya..iya.. Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-angguk
Begitu seterusnya, Caca curhat terus perihal Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke Nurul, hingga tak terasa berjalan 2 bulan
               “Nuruuuuuuuuuuuuul… berdiri bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul itu betul-betul memekakan telinga.
               “Apaan sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul jengkel
               “Sori dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?” Tanya Caca nutup mukanya sendiri
               “Meneketehe…” Jawab Nurul hambar abis angkat bahu
               “Ih Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kau dikit bahagia sanggup nggak sih?” Kata Caca mengguncang badan Nurul
               “Caranya?” Tanya Nurul sambil menguap
               “Puji ke’ ato apalah, yang penting saya sanggup bahagia giitu” Jawab Caca milih-milih
               “o iya, ada cara” Kata Nurul tiba-tiba
               “Nah tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum
               “Iya ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul menciptakan Caca manyun
               “Ga da yang lain yah?” Tawar Caca
               “Ga da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kau besok, gimana?” Ucap Nurul kembali menawar sambil berdiri dari daerah tidurnya
               “Okelah…demi kejutan” Kata Caca menyetujui
Mereka berdua pun membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang ke-17 biasa juga disebut sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang dewasa, jadi harus sesempurna mungkin. Sementara itu Caca yang selagi membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya malah terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget. Caca tidak menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut banget. Caca mengambil buku itu dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca senyum-senyum, pikirnya bahwa sanggup juga cewe’ setomboy Nurul punya diary.
               “Rul, diary kau nih?” tanya Caca
               Nurulpun balik “Iya…diary saya banget”
               “Buat saya ya Rul” Pinta Caca dengan sejuta raut wajah imutnya
               “Kamu mau?” Tanya Nurul
               “Ya iyalah, ga’ mungkin dong saya minta kalo saya kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar
               “Ntar saya selesaiin isinya gres saya kasi ke kamu” Ujar Nurul
               “Ayolah Rul” Rengek Caca yang super manja
               “Aku komitmen Ca, buku tuh niscaya kau miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji
               “Nurul pelit” Kata Caca ngambek
               “Aku kan dah komitmen Ca”
               “Janji yah?” Ujar Caca meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya
               “Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya
               “Iyah…Eh, Rul besok ada PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian
               “Belom, saya nyontek punyamu boleh?”
               “Ya boleh lah”
               “Aku juga titip besok dikumpulin, boleh?”
               “Boleh…eh mangnya kau mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi
               “Anak kecil ga boleh tau” Jawab Nurul
               “Uh…k’ Salsa, Nurul besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran
               “Ga tau juga” Jawab Salsa angkat bahu
               “Berarti k’ Salsa anak kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan
               “Udah, kalian tidur. Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa
               “Eh…Mita dimana k’?” Tanya Nurul ke Salsa
               “Tadi pamit ke asrama sebelah nginap” Keburu Caca jawab
               “Sapa juga yang nanya kamu?”Tanya Nurul
               “O…bukan saya yah? Abis panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca
               “Anak kecil bisanya ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir
               “Biarin…weak…aku bobo duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan berkemas-kemas ditempat tidurnya
               “Akhirnya hening juga” Ucap Nurul seolah-olah kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke daerah tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam semakin larut, Nurul melihat jam wekernya yang memperlihatkan pukul 01.30, usang kemudian alhasil tertidur juga setelah dia merapikan buku diarynya dan menyimpan di bawah bantalnya.

Keesokan harinya…….
              Hari itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak menyerupai kemarin-kemarin. Nurul mesti pergi kesuatu daerah yang penting dan Caca tak boleh tau rencananya itu. Caca disekolah yang sebangku dengan Nurul mesti memeras otak sendiri tanpa ada sahabat yang diajak diskusi. Sampai bel pulang sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya angkat bahu.
               “Duh dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi saya sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet hape dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon
               “Nomor yang anda tuju…..” Jawaban telpon di seberang pribadi ditutup oleh Caca sambil berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”
               Caca pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih” Ujarnya sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca pribadi turun dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca pribadi menuju daerah duduk 2 orang tadi.
               “Nurul!!! Ical!!! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke saya terkejut, sangat terkejut!!! Ical kita putus, dan kau Rul. Percuma saya khawatirkan orang yang rebut pacar sahabatnya sendiri” Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca pribadi pergi dari café itu dan naik angkot pulang keasramanya.
               Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, Caca tiba diasrama dan pribadi mehempaskan diri ketempat tidurnya sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi bersamaan dengan itu, hape Salsapun berbunyi.
               “Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang
               “Iyah saya segera kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan bergegas memberitahukan Caca
               “Ca, Nurul lagi……” Kata-kata Salsa terputus dikala Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa alasannya yang jelasnya dikala itu Caca mencicipi sangat sakit didadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke hape Caca
               Triiit…triiit… Caca mengambil hapenya dan membaca isi pesan itu
               “Ca, Nurul masuk UGD, kalo kau mau datang, pribadi saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD”
               Caca mulai khawatir, agar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia pribadi melupakan sakit yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa.
Sepanjang perjalanan Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam, “Nuruuul, kenapa sih kau tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi ini lain, Rul. Aku sakit dikala saya tau kau hianati persahabatan kita. Sekarang ada kejutan apa lagi? Tadi saya liat kau baik-baik aja bareng Ical, tapi kau ko sanggup masuk UGD sih? saya harap ini bukan permainan kau semata hanya untuk minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi”

Sesampainya dirumah sakit……
               Caca pribadi berlari menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari lisan Salsa.
               “Ada apa ini?” Gumam Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca. Sakit hatinya kembali muncul, usang dia pandang Ical hingga Ical berusaha mendekatinya tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Caca meninggalkan Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan menuju daerah tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai itu, dia lihat disitu ada Salsa dan……
               “Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……” Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca dikala melihat ditempat tidur diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi, malah yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak sanggup dikenali, bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya alasannya percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia kelewat emosi?.
               Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca pikirkan ialah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan memeluknya, kemudian memperlihatkan bingkisan imut yang ada ditangannya.
               “Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan gres sanggup diluar kota, saya mengantar Nurul alasannya saya juga ingin memperlihatkan kejutan kecil-kecilan buat kamu, tapi kau tiba dikala saya dan dia merencanakan program kejutan buat kamu” Jelas Ical sambil memeluk Caca yang semakin berlinang air matanya dikala mengetahui apa isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang dijanjikan Nurul
               “Katanya kau sangat menginginkan buku yang menyerupai miliknya, nah ini tandanya dia sangat sayang sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kau salah tanggap perihal di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit dulu ke kau sebelum minta pinjaman ke aku. Dia panik karna takutnya kau akan menganggap dia penghianat, alhasil diapun mengejarmu tanpa peduliin ramainya kendaraan dan bus itu…………” klarifikasi Ical terputus, dia tidak sanggup lagi meneruskan kisah tragis yang menimpa sahabat mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya semakin deras.
               “Rul, napa mesti kau jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa lagi yang sanggup saya ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang juara neh, he..he.., eh saya juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul berdiri dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah ini ga lucu, Rul bangun, kau napa sih? sukanya buat saya panik. Rul berdiri dong” Ujar Caca setelah melepaskan pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memperlihatkan sebuah buku diary milik Nurul
               “Kata Nurul, kalo dia tidak dapet buku yang menyerupai punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar Salsa
               Cacapun membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran berikutnya, hingga Caca pun membaca goresan pena Nurul paling akhir.

    13 Mei 2003, 01.00 pagi
    Dear Diary…..

    Aku dah dapet sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi saya tak sanggup memperlihatkan apapun untuk sahabatku itu, ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kau diary, mungkin saja suatu dikala saya berikan kau ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja saya harus cari yang menyerupai denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary, diakan pacar sahabat saya berarti dia juga sahabat saya dong. Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kau diary, mau tak mau saya harus ngasih kau kedia. Nyawa akupun boleh yang penting sahabat saya senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary saya ngantuk neh…
    Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY FRIENDSHIP”

    Nurul



               Caca menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul akan beri untuk Caca, bahkan nyawanya menyerupai kini yang Caca alami. Nurul takut kalo Caca menganggap dirinya berkhianat alasannya sudah lancang mengajak Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi ramainya kendaraan dijalan yang menciptakan dirinya menghadap sang Ilahi.
               Esok harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan, Caca mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis dinisan itu “Nurul Utami binti Muh. Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei 2003”, sehari sebelum hari jadinya.
               “Nurul, sahabat macam apa aku, hari jadi kau pun saya tak tau, Rul selamat ulang tahun yah, hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang sanggup saya beri ke kamu, istirahat dengan hening yah sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu.

##SELESAI##

Sekian Cerpen Persahabatan yang sempat saya berikan kali ini, semoga bermanfaat.
Sumber http://eposlima.blogspot.co.id/
Puisi Ibu - Tangisan Air Mata Bunda

Puisi Ibu - Tangisan Air Mata Bunda

TANGISAN MATA BUNDA
Puisi Monika Sebentina

Dalam Senyum mu kamu sembunyikan letih mu
Derita siang dan malam menimpa mu
tak sedetik pun menghentikan langkah mu
Untuk dapat Memberi keinginan gres bagi ku

Seonggok Cacian selalu menghampiri mu
secerah hinaan tak perduli bagi mu
selalu kamu teruskan langkah untuk masa depan ku
mencari keinginan gres lagi bagi anak mu

Bukan setumpuk Emas yg kamu harapkan dalam kesuksesan ku
bukan gulungan uang yg kamu minta dalam keberhasilan ku
bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku
tapi keinginan hati mu membahagiakan aku

Dan yang selalu kamu berkata pada ku
Aku mencintai mu kini dan waktu saya tak lagi bersama mu
aku mencintai mu anak ku dengan ketulusan hati ku

Demikian puisi ibu yang dapat saya berikan kali ini, biar bermanfaat ..
Sumber http://eposlima.blogspot.co.id/
Puisi Persahabatan - Dongeng Klasik

Puisi Persahabatan - Dongeng Klasik

Kisah Klasik
oleh: Umii Kulsum

andai waktu sanggup di ulang
saya ga akan rela sedikitpun membiarkan waktu brgulir tanpa kalian
semua yg dulu indah

akankah sanggup terulang kembali????
kebersamaan yang dulu saya rasa kini terasa semakin pudar
menjauh bahkan menghilang

saya kangen kalian
kalian yang dulu
kalian yang selalu membawa kebahagiaan serta senyuman

menyebarkan bersama wacana semua rasa
tak ada sedikitpun beban yang ku rasa dikala saya bersama kalian
semua terasa gampang dan ringan
karna kalian...

makasih udah menjadi harta yang paling berharga
yang pernah saya miliki
makasih udah nemenin saya selama ini

walau kini semua harus di pisahkan oleh waktu
semoga saya tetap menjadi sobat kalian
semoga ini bukan final dari persahabatan yang telah kita bina

1 hal yang harus kalian tau
hingga kapanpun dan bagaimanapun kalian akan tetap menjadi SAHABAT untuk ku
Dan ga akan ada 1 orang pun yang sanggup menggantikan kalian
Dan merubah itu semua
saya kangeeen banget sama kalian semua ;'(

just for you my best friends

Demikian puisi persahabatan kali ini, semoga sanggup menginspirasi ...
Sumber http://eposlima.blogspot.co.id/

Fakta Unik Wacana Kopi

Fakta Unik Tentang Kopi - Kopi ialah salah satu minuman yang popular semenjak daman dahulu sampai sekarang,karena kopi rasanya cukup lezat dan bisa memperpanjang usia katanya mbah surip..hehehehehe….ngak ngak,itu tidak bener sob,bahwa bersama-sama kalo kita keseringan minum kopi efeknya juga ngak baik bagi kesehatan badan kita,apalgi yang mengkonsumsi itu ialah seorang dewasa tentu itu sangat berbahaya sekali.


Nah pada perjumpaan kali ini ane bakal mengupas perihal kopi yang mungkin ketika ini belum anda ketahui,apa saja itu..??

Berikut ialah Fakta Unik Tentang Kopi yang perlu diketahui.

1. Kafein bisa membunuhmu
Terutama bila kau sangat manikak kopi, yakni menenggak kopi 80-100 cangkir sehari. Makara jangan coba-coba ya.

2. Kopi bisa juga baik buatmu
Studi menandakan bahwa kita bisa mendapat antioksidan dari kopi, cukup satu atau dua cangkir kopi sehari, sudah bermanfaat. Jika tidak suka kopi, bisa coba teh hitam.

3. kafein bisa meningkatkan gairah seks perempuan
Ini gres terbukti pada tikus percobaan. Menurut ilmuwan, pada insan kopi sanggup meningkatkan pengalaman seksual namun hanya pada mereka yang tidak maniak kopi.

4. Kafein bisa mengurangi rasa sakit
Dosis sedang kopi, setara dengan dua cangkir kopi, bisa meredakan rasa sakit di otot sehabis olah raga, demikian berdasarkan sebuah studi kecil. Tapi lagi-lagi ini hanya berlaku buat mereka yang bukan pecandu kopi.

5. Kafein bisa bikin kita begadang
Buat yang ingin melek semalaman akan terbantu dengan kopi. Yang tidak, sebaiknya meminum kopi enam jam sebelum jam tidur semoga tidak terganggu jam istirahatnya.

6. Kopi yang dekafein pun mengandung kafein
Walaupun istilahnya dekafein, alias bebas kafein, tetap saja kopi tersebut mengandung kafein. Kalau kita minum 10 cangkir kopi dekafein, sama saja dengan minum satu-dua cangkir kopi kafein.

7. kopi dekafein memakai materi kimia
Untuk mengurangi kadar kafein pada kopi dekafein, dipakai materi kimia berjulukan methylene chloride.

8. Kafein itu bukan adegan yang berasa pahit
Banyak orang mengira, makin pahit rasa kopi, makin banyak kandungan kafeinnya. Tidak, alasannya kafein bukanlah komponen yang rasanya pahit.

9. Kopi yang anggun tergantung pada pembakaran dan peracikannya
Jika ingin kopi bercitarasa nikmat, maka yang paling memilih ialah proses pembakaran dan racikannya. Selama pembakaran, minyak yang tersimpan dalam biji kopi akan keluar. Makin banyak minyak ini keluar, makin berpengaruh rasa kopinya. Munculnya kandungan kafein tergantung pada lamanya air berada di adegan dasar. Pembakaran yang makin usang juga menghasilkan kafein makin banyak.

10. Kopi ditemukan oleh kambing
Satu milenium silam, di pegunungan Afrika, sekawanan kambing terjaga semalaman sehabis makan biji kopi merah. Sang penggembala menilik kenapa itu terjadi dan menemukan bahwa penyebabnya ialah kopi. Sejak itu insan mulai ikutan minum kopi.

Nah itulah tadi beberapa fakta unik perihal kopi yang perlu diketahui,semoag artikel di atas bisa menambah pengetahuan dan wawasan anda…..

artikel terkait :
fakta unik perihal nyamuk
fakta unik perihal tertawa
fakta unik perihal berlian
Sumber http://eposlima.blogspot.co.id/