Loading...
Tabungan Tanda 360 Ocbc Nisp

Tabungan Tanda 360 Ocbc Nisp

0
Bank NISP yang dulu bersahabat di kenal dengan masyarakat jawa barat kini sudah lantang di tingkat nasioanal. Yah paling tidak namanya makin cetar membahana semenjak berubah wujud jadi OCBC NISP.

Saya pernah pernah punya rekening di OCBC Nisp. Tidak lama. Paling sekitar 2 tahunan. Itu sebab di suruh kantor buat pembayaran gaji. Begitu aku pindah kerja, aku tidak menggunakannya lagi.

Bagaimana kesan dengan bank ini? Saya tidak banyak punya cerita. Orang Cuma buat ambil duit doang di ATM ketika tanggal muda. Transfer-transfer . sudah.

Satu-satunya kunjungan aku ke kantor cabang ialah waktu lapor gagal tarik tunai di mesin ATM.
Saya masih cukup ingat dengan pengalaman itu, ambil uang di ATM tapi duit tidak keluar dari mesin. Yang aku gunakan bukan mesin ATM OCBC NISP, tapi mesin ATM CIMB Niaga di FX Sudirman.

Kalut. Bingung saldo sudah terpotong. Gimana ini  (Norak deh gue hehe....) maklum itu pengalaman pertama gagal tarik tunai yang memotong saldo. Sampai ketika ini belum pernah ngalamin lagi. Di bank manapun.

Tabungan Tanda 360
Produk simpanan utama OCBC NISP ialah ini; Tanda 360. Tabungan harian dalam mata uang rupiah.

Fitur dan Biaya
  • Setoran awal minimum Rp 200 ribu.
  • Biaya manajemen perbulan Rp 10.000,- ( gratis kalau saldo rata-rata haran ≥ Rp 10 juta.
  • Biaya tutup rekening Rp 100.000
  • Limit tarik tunai perhari 10 juta
  • Limit transfer kesesama NISP RP 100 juta / hari
  • Limit transfer ke bank lain Rp 25 juta / hari
  • Internet banking dengan token gadget
  • Kartu ATM yang berfungsi sebagai debet card berlogo Visa dalam jaringan ATM Prima dan Bersama
  • Mobile banking berbasis  blackberry, iphone, mobile web, java,
  • SMS Banking

Itulah beberapa hal mengenai tabungan dari bank OCBC OSISP; Tanda 360.


Sumber https://tabunganbank.blogspot.co.id

Biografi Tahi Bonar Simatupang - Profil

0
BIOGRAFI T.B. SIMATUPANG - Profil

A.    Masa Kecil  dan Latar Belakang Pendidikan Tahi Bonar Simatupang

T. B. Simatupang, lahir di Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatra Utara tanggal 28 Januari 1920-1990. T.B. Simatupang kependekan dari Tahi Bonar dalam bahasa Batak yang berarti permufakatan atau tujuan yang benar. Sedangkan Simatupang merupakan nama marga untuk orang Batak dari pihak ayahnya. T.B. Simatupang adalah anak dari seorang Pegawai Negeri, Kepala Kantor Pos Sidikalang, ayahnya berjulukan Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang, berasal dari Laguboti, dan ibunya, seorang perempuan yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya.

T. B. Simatupang mempunyai delapan bersaudara, dia anak yang kedua, dari delapan bersaudara. Nama-nama yang diberikan oleh ayahnya untuk nama anaknya menciri khaskan nama-nama orang Batak, ibarat nama anak yang pertama dari ayahnya. Sahala Hamonangan, yang mempunyai arti wibawa kemenangan, anak yang kedua Tahi Bonar yang mempunyai arti permufakatan atau tujuan yang benar, anak yang ketiga Frieda Theodora, yang mempunyai arti anak sumbangan Tuhan yang lahir pada hari Jumat, anak yang keempat Pinta Pasu, yang berarti perempuan, anak kelima Maruli Humala Diasi, yang berarti laki-laki, anak yang keenam Tapi Omas yang berarti
perempuan, anak yang ketujuh Batara Ningrat, Batara dari mitologi Batak-Hindu ditambah dengan Ningrat, kesadaran nasionalisme yang lebih luas dari nasionalis Batak, dan anak yang kedelapan Riaraja,  yang artinya anak laki-laki.  (T.B. Simatupang , Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos Menelusuri Makna Pengalaman Seseorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa dan Negara  (Jakarta : Sinar Harapan , 1991), hlm. 20 )

T.B. Simatupang pada usia 6 tahun keluarganya pindah ke Siborong-borong, di sinilah dia masuk sekolah Zending, tapi keluarga dia tinggal hanya 9 bulan di Siborong-borong, kemudian keluarganya pindah ke Pematang Siantar. Di Pematang Siantar inilah T. B. Simatupang masuk sekolah HIS (Hollands Inlandse School) yaitu pada tahun 1927. (Ibid., hlm. 22)

Pada tahun 1927-1934 berkembang semacam kesadaran nasionalisme yang tinggi dalam masyarakat Pematang Siantar. Ada nasionalisme Indonesia dan nasionalisme Batak dan Kristen, di Pematang Siantar inilah telah tumbuh sebuah semangat gres yang sanggup menambah kesadaran mengenai harga diri dan tanggung jawab yang dimiliki oleh orang-orang Pematang Siantar, hal semacam ini terlihat terang dengan pertumbuhan banyak sekali macam organisasi yang sanggup mengasah pengetahuan, dan juga telah terbit banyak sekali macam media cetak seperti: Suara Kita, Bintang Batak, dengan adanya media cetak semacam ini sanggup menambah wawasan dan pengetahuan.

T. B. Simatupang meyelesaikan sekolahnya di HIS pada tahun 1934, dengan predikat yang memuaskan, alasannya yaitu T. B. Simatupang termasuk anak yang pintar, rajin dan juga kutu buku, dalam hal ini ia telah sanggup menuntaskan sekolahnya dengan baik.

T. B. Simatupang, pada tahun 1934 melanjutkan studinya ke SMP Kristen, dalam bahasa Belanda (Christelijke Meer Uitgebreid Lagar Onderwijs atau Christelijke MULO ) Dr. Nomensen yang terletak di Tarutung. Christelijke MULO merupakan sekolah elite bagi masyarakat Nasrani Batak , sekolah yang mempunyai kualitas yang anggun dan disiplin yang tinggi, dan mendidik siswa-siswinya dengan baik semoga sanggup menjadi orang yang pintar, berkualitas, dan bertanggunga jawab. (Ibid., hlm. 39)

Setelah masuk sekolah MULO, T. B. Simatupang belajarnya sangat tekun sekali, dan rajin membaca buku, baik itu buku pelajaran atau buku-buku umum yang lebih banyak menambah pengetahuan, maka semangat nasionalisme sangat berkobar-kobar. T.B. Simatupang menuntaskan studinya di MULO tahun 1937 dengan mendapat predikat yang memuaskan.

Kemudian T. B. Simatupang melanjutkan studinya di pulau Jawa yaitu masuk sekolah Christelijke Algemene Middelbare School atau Christelijke AMS (SMA Kristen), di Salemba, Batavia (Jakarta) alasannya yaitu pada waktu itu di Sumatra belum ada SMA, maka siapa yang mau sekolah Sekolah Menengan Atas harus ke pulau Jawa. AMS di Salemba ini termasuk sekolah yang terbaik di Hindia-Belanda, dan siswa-siswinya kebanyakan belum dewasa orang Belanda yang  mempunyai status sosial yang  tinggi, sedangkan putra-putri bangsa Indonesia yang masuk sekolah AMS yaitu golongan-golongan kelas atas. Semangat nasionalisme putra-putri bangsa Indonesia ketika masuk sekolah AMS makin bergejolak ibarat yang dialami oleh T. B. Simatupang.

T. B. Simatupang sewaktu sekolah AMS di Batavia ia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan  di gereja, khususnya gereja Batak, yang ada di jalan Kernolong Jakarta, ketika ia aktif di gereja ia  banyak mendapat teman dari mahasiswa- mahasiswa teologi, ia sering hadir dalam pertemuan-pertemuan mahasiswa teologi yang telah mempunyai semangat yang tinggi dengan hadirnya gereja-gereja di Indonesia.

Pada tahun 1940 T. B. Simatupang sanggup menuntaskan studi AMSnya dengan hasil yang memuaskan, meskipun hanya tiga tahun di Batavia, tapi ia mendapat pengalaman yang luar biasa yang sanggup hidup mandiri, dengan berorientasi dengan orang-orang Belanda di lingkungannya, dan sanggup menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi terhadap kecintaannya dengan Indonesia.

 Kemudian sesudah T. B. Simatupang menuntaskan studi AMS di Salemba, ia berangan-angan atau bercita- cita ingin melanjutkan studinya wacana kedokteran, alasannya yaitu nanti apabila telah selesai studi kedokteran akan mengabdi dan bekerja di rumah sakit Gereja. (Ibid., hlm. 80) Akan tetapi iklim pada ketika itu tidak memungkinkan, alasannya yaitu ada informasi wacana penguasaan Jerman terhadap Belanda. Kaprikornus pemuda-pemuda Belanda yang ada Hindia-Belanda harus ikut jadi militer untuk mempertahankan Belanda. Oleh alasannya yaitu itu dibukalah pembukaan sekolah KMA (Koninlijke Militaire Academie) atau Akademi Militer kerajaan Belanda di Bandung. T. B. Simatupang, mendaftarkan diri untuk masuk perguruan tinggi itu, dan ia lulus dengan baik, T. B. Simatupang  dalam pangkat kemiliterannya berpangkat Letnan satu, tetapi yang perlu diingat dan dicatat T. B. Simatupang bekerja untuk orang Belanda tetapi rasa nasionalisme terhadap Indonesia tetap tidak berubah dan tidak akan pernah padam.

T. B. Simatupang masuk militer, semua itu untuk menepis mitos-mitos yang dilontarkan orang-orang Belanda kepada Indonesia, bahwa orang Indonesia tidak cocok untuk menjadi militer. Orang Indonesia tidak bisa membangun suatu angkatan perang. Akan tetapi T. B. Simatupang bertekad dan berusaha untuk menolak semua mitos-mitos itu, orang-orang Indonesia bisa menjadi militer dan bisa bersaing dengan militer di negara-nagara lain.

 dan Latar Belakang Pendidikan Tahi Bonar Simatupang Biografi Tahi Bonar Simatupang -  Profil


B. Karir dan Kegiatan Tahi bonar Simatupang

T. B. Simatupang, mempunyai pengalaman militer sangat banyak sekali, yang ia dapatkan dari orang-orang Belanda/militer Belanda yang pernah medidik ia untuk mejadi militer, dari pengalaman-pengalaman yang ia peroleh sanggup dikembangkan kepada tentara-tentara atau militer Indonesia, yang berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Karir T. B. Simatupang wacana militer, sangat dibanggakan sebagai anak bangsa sanggup mejadi militer yang profesional, ia juga dipercaya untuk membantu sepenuhnya pembangunan militer angkatan bersenjata Indonesia, dan selalu mejadi perwakilan dari pihak angkatan bersenjata dalam delegasi Indonesia banyak sekali negosiasi dengan Belanda di Konfrensi Meja Bundar. Misi utamanya yaitu mendesak Belanda membubarkan KNIL (tentara boneka ciptaan Belanda) serta mengukuhkan Tentara Nasional Indonesia sebagai kekuatan inti bagi angkatan perang RI.

T. B. Simatupang pernah memegang jabatan wakil II Kepala Staf Angkatan Perang (W II KSAP), dan yang memegang wakil I Kepala Staf Angkatan Perang yaitu Kolonel Hidayat, tetapi Kolonel Hidayat ditugaskan di Sumatra, sebagai Panglima Tentara dan Teriotorium Sumatra (PTTS), maka, ia di percayakan sebagai pengganti Kolonel Hidayat, dengan menduduki sebagai wakil I Kepala Staf Angkatan Perang, dan yang menjadi Kepala Angkatan Perang (KSAP) pada ketika itu yaitu Jendral Sudirman, yang merangkap menjadi panglima Besar Angkatan Perang (PBAP), sebagai wakil KSAP ia membantu Jendral Sudirman dalam pengamanan bangsa Indonesia terhadap penjajah. (T.B.Simatupang , Laporan Dari Banaran : Kisah Pengalaman Seorang Prajurit Selama Perang Kemerdekaan ( Jakarta: PT. Pembangunan, 1960 ), hlm. 9. )

Sebagai wakil Kepala Staf Angkatan Perang, T. B. Simatupang  telah banyak jasanya terhadap usaha bangsa Indonesia. Pada ketika itu Jendral Sudirman dalam keadaan sakit yang sangat kritis, maka Jendral Sudirman menawarkan tanggung jawab kepada T. B. Simatupang semoga sanggup memimpin Staf Angkatan Perang Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Januari 1950, Jendral Sudirman meninggal dunia, dengan demikian yang menggantikan Kepala Staf Angkatan Perang yaitu T. B. Simatupang .

Karir T. B. Simatupang memang agak menanjak, tapi dalam waktu yang sangat singkat, T. B. Simatupang di pensiunkan dari Kepala Angkatan Perang pada tanggal 21 Juli 1959. Dengan adanya pergeseran jabatan, maka T. B. Simatupang di minta untuk menjadi penasehat militer.

Setelah keluar dari dinas kemiliteran, ia banyak mempunyai waktu luang, dan juga diundang dalam pelayanan gereja-gereja di Indonesia. Waktu luang tersebut diisi dengan menulis dan membaca banyak tulisan-tulisannya yang beredar di media masa dan forum-forum pertemuan, dan juga ia menekuni studi wacana teologi, dalam dimensi teologi, maka masalahnya terbukti sanggup dipahami secara lebih mendalam. Studi wacana teologi sangat luas, sehingga kita sanggup terus mempelajari teologi itu seumur hidup. (T.B.Simatupang, Membuktikan Ketidakbenaran …………,op.cit., hlm.187-188)

Ketertarikan T. B. Simatupang dalam Dewan-Dewan Gereja di Indonesia lewat bidang gereja dan masyarakat, ia aktif menjadi anggota DGI, kemudian ia terpilih sebagai ketua Badan Pekerja Harian, jabatan itu dipercayakan kepadanya hingga sidang raya X DGI di Ambon, tahun 1984.(Samuel Pardede ( penyunting .), Saya yaitu Orang yang Berhutang ( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990 ), hlm. 15) Periode 1984-1989 T. B. Simatupang terpilih sebagai Ketua Majlis Pertimbangan PGI, hingga periode 1989-1994.

Masa pengabdiannya di DGI/PGI, T. B. Simatupang aktif juga dalam sidang gereja-gereja dan dewan gereja-gereja sedunia. Ia semenjak tahun 1975-1984, menjadi presiden mewakili gereja-gereja se-Asia selama satu periode.

Pengabdiannya terhadap gereja-gereja dan juga bangsa dan negara, sangat cemerlang, tapi dengan faktor usia yang sudah tua, maka semua dedikasi harus berhenti, ia meninggal dunia pada tanggal 1 Januari 1990 alasannya yaitu sakit, pengabdiannya sangat luar biasa maka haruslah kita hargai.



C. Karya-Karya Tahi Bonar Simatupang

1.    Dalam Bentuk Buku
  • Laporan dari Banaran : Kisah Pengalaman Seorang Prajurit Selama Perang Kemerdekaan, Jakarta: PT. Pembangunan, 1960
  • Tugas Nasrani Dalam Revolusi, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967
  • Peranan Angkatan Perang Dalam Negara Pancasila yang Membangun, Jakarta: Idayu, 1980
  • Iman Nasrani dan Pancasila , Jakarta; BPK. Gunung Mulia, 1984
  • Kehadiran Nasrani Dalam Perang, Revolusi dan Pembangunan: Berjuang Mengamalkan Pancasila Dalam Terang Iman, Jakarta: BPK, Gunung Mulia, 1986
  • Dari Revolusi ke Pembangunan, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1987
  • 70 Tahun Dr. T. B. Simatupang: Saya Adalah Orang Yang Berhutang, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990
  • Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan, Masyarakat, Bangsa dan Negara, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991
  • Peranan Agama dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Negara Pancasila yang Membangun, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1996


2.    Artikel
  • Masalah- duduk kasus Etika dan Moral Dalam Pembangunan Yang Mengamalkan Pancasila, Peninjau, 1982
  • Peranan Teologi Dalam Masyarakat Indonesia, Setia, 1987
  • “Spiritualitas dan Beragam Keagamaan di Indonesia”, Peninjau, 1984
  • “Strategi Partisipasi Nasrani Dalam Pembangunan Pendidikan Di Indonesia”, Peninjau, 1984
  • Dapatkah Ilmu-Ilmu Sosial Memberikan Sumbangan Dalam Mission Imposible Kita ?, Peninjau, 1987
  • “Dukungan Birokrasi Modal Memenagkan Pemilu”, Prisma, 1979

Karya-karya T. B. Simatupang yang dicantumkan oleh penulis di atas, penulis peroleh dari banyak sekali sumber buku yang dikarang oleh T. B. Simatupang sendiri .


D. Orang Orang Yang Mempangaruhi Pemikiran T.B. Simatupang

Ada beberapa pemikiran yang mensugesti perjalanan intelektual T. B. Simatupang yaitu Carl Von Clausewitz, untuk mempelajari wacana perang, T. B. Simatupang pada masa mudanya mengagumi wacana pemikiran Carl Von Clausewitz wacana perang, sehingga ia sanggup mempelajari dengan sungguh-sungguh, kemudia ia menawarkan landasan teoritis bagi sumbangan dalam usaha bangsa dan negara Indonesia, khususnya bidang militer serta masalah-masalah diplomasi dan politik yang terkait dengan usaha militer.(T.B. Simatupang , Membuktikan Ketidakbenaran…….., op.cit., hlm. 118) T. B. Simatupang sesudah mendapat pengetahuan wacana perang dari pemikiran Carl Von Clausewitz, kemudian Pengetahuan yang ia miliki wacana perang ia praktekkan dan ikut terlibat dalam pengorganisasian tentara dalam melaksanakan perang gerilya, dalam menumpas penjajah. (T.B. Simatupang , Iman Nasrani dan Pancasila ( Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1984 ),hlm. 13.)

Masih ada pemikiran yang mensugesti intelektual T. B. Simatupang yaitu Karl Marx, untuk mempelajari wacana revolusi yang dibangun oleh Karl Marx wacana struktur sosial yang ada dalam masyarakat, usaha kelas sosial akan melukiskan revolusi, T. B. Simatupang semenjak dari muda ia sudah mempelajari atau menambah wawasannya wacana revolusi yang dibangun oleh Karl Marx. Menurut Karl Marx revolusi harus dibedakan menjadi dua yaitu: revolusi politik dan revolusi sosial. Revolusi Politik apabila kekuasaan politik dipegang oleh kaum proletar (kelas bawah). Revolusi sosial, kaum proletar sanggup memegang kekuasaan dari kaum borjuis, kekayaan-kekayaan yang dimiliki kaum borjuis sanggup dimanfaatkan oleh kaum proletar untuk kepentingan dan perubahan yang ada dalam masyarakat , T. B. Simatupang mempelajari revolusi ini untuk mengetahui sebagai mana pentingnya perubahan-perubahan yang harus dilakukan dan tidak ada penindasan terhadap rakyat, semajak ia mempelajari revolusi nya Karl Marx sanggup menambah rasa sosialismenya terhadap rakyat Indonesia atau bangsa Indonesia.(Lyman Tower Sargent, Ideologi-Ideologi Politik Kontemporer, Sebuah Analisis Komperatif, Edisi keenam ( Jakarta: Erlangga , 1087 ),hlm. 14. )

T. B. Simatupang mengagumi juga pemikiran Teologi Karl Barth. Karl Bath berasal dari kota Basel, Swiss (10 Mei 1886) dengan teologinya yang sangat populer Teologi Kemerdekaan, menurutnya teologi kemerdekaan yaitu sebuah teologi yang memandang pada kemerdekaan Yang Mahakuasa yang menawarkan kasih sayang dan karunia kepada kemerdekaan manusia. Maksud kemerdekaan di sini yaitu merdeka dari tindakan kejahatan dan penindasan, yang disimpulkan dalam istilah “dosa”, dan lebih dari itu merdeka untuk sungguh-sungguh hidup bersama Yang Mahakuasa dan sesama dalam prikemanusiaan yang sejati (Clifford Green, Karl Barth, Teologi Kemerdekaan: kumpulan cuplikan Karya Karl Bath, ( terj .), Marie Claire Barth ( Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1989 ), hlm. 47).  Kaprikornus berdasarkan Karl Barth insan jangan hingga melaksanakan tindakan kejahatan dan menindas orang-orang yang lemah atau tidak mampu, dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut maka akan selau dikasihi Allah, dan apabila melaksanakan perbuatan-perbuatan kejahatan dan penindasan maka akan mendapat dosa.

Ketertarikan T. B. Simatupang dengan teologinya Karl Barth yaitu bahwa Karl Bath menginginkan insan itu selalu erat dengan Tuhan, dan insan harus suci dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, dan menjauhkan dari dosa. Karl Barth membangun teologinya atas dasar “Pernyataan”, terutama pernyataan Yang Mahakuasa dalam Yesus Kristus sebagaimana disaksikan dalam kitab suci. (Ibid., hlm. 17)

Setelah T. B. Simatupang mempelajari Teologinya Karl Barth, kemudian ia mempelajari juga pemkiran Reinhold Niebuhr, seorang teologi Amerika Serikat yang berusaha memikirkan masalah-masalah kekuasaan keadilan dan kebebasan di negerinya sendiri dan juga di luar negeri, berafiliasi dengan kekuasaan Amerika Serikat yang sangat besar sesudah perang dunia II berakhir. Secara sederhana duduk kasus kekuasaan, kebebasan dan keadilan bertolak dari kodrat insan ibarat yang terdapat dalam Al-Kitab yaitu mahluk yang mempunyai martabat yang sangat tinggi. (T.B. Simatupang ,  Membuktikan Ketidakbenaran………, op.cit., hlm.189) Sistem kekuasaan sangat dibutuhkan untuk menjamin keamanan dan ketertiban secara efektif terhadap kekuasaan. Kebebasan juga dibutuhkan untuk memperjuangkan dan menegakkan keadilan.

T. B. Simatupang melihat perkembangan sitem-sitem politik ekonomi sepanjang sejarah bangsa Indonesia, sesudah Proklamasi Kemerdekaan, membuka selebar-lebarnya dalam semua bidang, antara lain pembentukan partai-partai politik dan pembentukan-pembentukan tentara-tentara bersenjata. Itulah ungkapan Soekarno untuk menegakkan demokrasi terpimpinnya. Akan tetapi ungkapan semacam ini yaitu kesalahan besar dalam demokrasinya, alasannya yaitu tidak menawarkan ruang kebebasan, sehingga sistem politik yang dibangun menjadi penuh penyalahgunaan dan penuh kebobrokan.

Dari beberapa orang yang telah mensugesti pemikiran T.B. Simatupang di atas, maka sanggup ia terapkan dalam kehidupannya sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara yang baik, oleh alasannya yaitu itu T.B. Simatupang yaitu seorang yang telah mempunyai pengetahuan yang luas wacana ketentaraan, diplomasi ( politik dan militer) dan teologi. Dalam bidang ketentaraan ia sangat berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan juga menawarkan pengetahuan wacana kemiliteran kepada tentara –tentara Indonesia . (P.D. Latuihamallo, Menyambut Usia ke 70 T.B. Simatupang, dalam buku, 70 tahun Dr.T.B. Simatupang, Saya Adalah Orang yang Berhutang ,( Penyunting .), Samuel Pardede ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan , 1990 ), hlm. 22)

Setelah T.B.Simatupang tidak aktif dalam bidang kemiliteran maka ia lebih mencurahkan perhatiannya kepada organisasi agama. Dewan Gereja yaitu medan juang yang di pilihnya, ia sempat menjadi Ketua Dewan Gereja Indonesia , Ketua Dewan- Dewan Gereja  se Asia, dan  pernah menjadi Presiden Dewan Gereja-Gereja se Dunia.

Gereja yang semula lahir terpisah-pisah ingin dipadukan semoga gotong royong melaksanakan kiprah Dewan Gereja Indonesia dalam rangka pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. (Emil Salim, Yang Penting “ Lagu” Bukan Penyanyi, dalam buku, 70 tahun Dr. T.B. Simatupang, Saya Adalah Orang yang Berhutang, ( Penyunting .), Samuel Pardede ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1990 ), hlm. 97. ) Itulah yang menjadikannya tokoh nasional paling tegas dikalangan gereja-gereja Nasrani di Indonesia sehingga seluruh pemikirannya sungguh layak untuk dianalisis dan dipelajari. Khususnya di tahun 1970-1990 ia mengambarkan dirinya seorang teolog awam yang sangat produktif yang telah banyak menawarkan sumbangan kepada sejarah nasional dan sejarah gereja, dan pada bidang pembangunan bangsa dan dengan berangkat dari ideologi Pancasila. (A.G. Hoekema, Berpikir Dalam Keseimbangan yang Dinamis Sejarah Lahirnya  Teologi Protestan  Nasional di Indonesia  1860-1960, ( terjemah .), Ny. Amsy Susilaradeya. Jakarta: Gunung Mulia, 1997, hlm. 272)           Biografi Tahi Bonar Simatupang - Profil

Sumber http://www.sarjanaku.com/

Biografi Montesquieu - Profil Hidup

0
Biografi Montesquieu - Profil Hidup

1. Sejarah kelahiran dan pendidikan Montesquieu (Sejarah Kelahiran, pendidikan, pengalaman dan kegiatan intelektual Montesquieu ini merupakan hasil adonan dari beberapa sumber diantaranya: “Biography of Montesquieu,” http://www.malaspina.com/site/person_857.asp, susukan 15 september 2004; “Baron de Montesquieu,” http://www.rjgeib.com/thoughts/montesquieu/montesquieu-bio.html, susukan 15 september 2004; http://www.atheism.about.com/library/glossary/political/bldef_montesquieucharles.htm, susukan 15 september 2004; dan “Biographical Note,” dalam Montesquieu, The Spirit, hlm. ix-x.)
Keluarga Montesquieu termasuk kaum bangsawan; kakeknya yaitu Presiden Parlemen Bordeaux, ayahnya, Jacques de Secondat, yaitu anggota pengawal kerajaan, dan ibunya, Marie Francoise de Penel, yang wafat ketika Montesquieu berumur sebelas tahun, berasal dari keluarga Inggris-Gascon.

Charles Louis de Secondat Baron de la Brede et de Montesquieu lahir di Chateau de la Brede, sekitar sepuluh mil dari Bordeaux, Perancis, pada tanggal 18 Januari 1689. Meskipun berasal dari keluarga yang berada, selama masa kanak-kanak Montesquieu berada di bawah asuhan orang tuanya yang miskin. Karena itu ia mengenal orang-orang miskin sebagai saudaranya sendiri. Pada tahun 1700, ia dikirim ke Fakultas Seni Berpidato di Juilly, dekat Meaux, dimana ia mencar ilmu kesusastraan klasik, sejarah dan ilmu pengetahuan umum hingga tahun 1711. Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1713, ia berada di bawah asuhan pamannya dari pihak ayah, Baron de Montesquieu, dan menjadi Dewan Penasehat Parlemen Bordeaux. Pada tahun 1715, ia menikah dengan seorang gadis Protestan, andal waris perempuan dari sebuah keluarga militer, Jeanne Lartigue, dan dikaruniai tiga orang anak. Namun demikian, profesinya sebagai Dewan Penasehat maupun statusnya sebagai kepala keluarga, tidak menyita banyak perhatiannya untuk menuntut ilmu. Tahun 1716, pamannya wafat dan mewariskan kepada Montesquieu kedudukannya sebagai Presiden Parlemen Bordeaux, kekayaannya dan namanya; Baron de Montesquieu, yang dengan nama itu ia kemudian dikenal. Kemudian pada tahun itu juga ia menjadi anggota The Bordeaux Academy of Sciences dimana ia mencar ilmu hukum, susila istiadat serta ilmu pemerintahan negara-negara Eropa.


2. Pengalaman dan kegiatan intelektual Montesquieu

Meskipun memegang jabatan kepresidenan di Parlemen dan beraktivitas selayaknya spesialis aturan profesional, Montesquieu kelihatan lebih tertarik pada bidang kepustakaan dan model eksperimen ilmu alam.

Di Akademi Bordeaux, antara tahun 1717 hingga 1723, Montesquieu meng-ajukan sejumlah paper dalam banyak sekali tema diantaranya perihal politik keagamaan Romawi, sebab-sebab kemabukan, demam yang tiap sebentar kambuh, seluk beluk gema, kelemahan dan berat badan, arus air laut, peninggalan-peninggalan fosil, dan studi perihal bunga merambat. Pada satu kesempatan, ia berencana menulis perihal “Physical History of the Earth” (Sejarah Fisik Bumi) yang untuk itu ia mulai mengumpulkan bahan-bahan di tahun 1719. Namun dua tahun kemudian, ia disibuk-kan oleh topik yang sama sekali berbeda; mempublikasikan karya besar pertamanya di Amsterdam yang berjudul Lettres Persanes (Surat-Surat Orang Persia). Buku yang dipublikasikan pada tahun 1921 ini berisi perihal surat menyurat antara dua orang Persia yang melancong ke Eropa dengan sahabat mereka di Persia. Melalui surat-surat dari dua orang Persia ini – tokoh fiktif yang diciptakan Montesquieu – Montesquieu bebas megecam dengan penuh sindiran dan cemooh, banyak sekali kebodohan masyarakat Perancis perihal gaya hidup, pemerintahan, Parlemen, Akademi, Universitas, dan cercaan yang paling sengit dilontarkannya untuk gereja, Paus, kepercayaan dan praktek agama Katolik. Dalam satu tahun buku ini sudah terjual sebanyak empat edisi orisinil yang sah dan sejumlah besar edisi bajakan. Ketika buku ini dipublikasikan, Montesquieu tidak mencantumkan namanya. Namun nama penulis ternyata segera sanggup diketahui oleh masyarakat umum yang kemudian menominasikannya untuk masuk ke dalam French Academy. Tahun 1725, ia diterima di Frenc Academy tetapi tidak diakui oleh Raja Louis XV akhir kecamannya dalam Lettres Persanes. Di tahun berikutnya, Montesquieu menjual masa jabatan kedudukannya di Bordeaux dengan syarat bahwa sehabis ia wafat, jabatan itu kembali pada anak laki-lakinya. Setelah itu ia pindah ke Paris untuk mencurahkan perhatiannya pada literatur, dan sekali lagi ia diterima di  French Academy, dan diakui di tahun 1728.

Pada tahun itu juga, Montesquieu mulai mengadakan perjalanan panjang keliling Eropa untuk mengobservasi banyak sekali kasus hukum, masyarakat, dan susila istiadat mereka, yang kemudian dari perjalanan itu menghasilkan karya besar selanjutnya, L`Esprit des Lois. Dalam perjalanannya, ia menyertai Pangeran Waldegrave ke Vienna, mengunjungi Hongaria, singgah beberapa waktu di Venice, Florence, Naples, Genoa, dan Roma dimana ia disambut oleh Cardinal de Polignac dan Benedict XIII. Di tahun 1729, bersama Lord Chasterfield, ia pergi ke Inggris melalui Piedmont dan the Rhine. Selama delapan belas bulan di Inggris, ia menjumpai tokoh-tokoh terkemuka ibarat Perdana Menteri Walpole, Swift dan Paus; serta memperoleh wawasan yang luas perihal kehidupan di Inggris. Kemanapun ia berkunjung, Montesquieu menciptakan catatan yang banyak perihal segala sesuatu yang ia lihat dan dengar, kemudian mempelajarinya dengan penuh semangat. Dan dari pengamatannya terhadap praktek pemerintahan Inggris inilah, ia kemudian menyandarkan pemikirannya perihal kekerabatan antar forum negara.

Setelah bolos selama tiga tahun, pada tahun 1731, ia kembali pada keluarga, bisnis, perkebunan anggur dan lahan pertaniannya di Chateau de la Brede. Disana ia sering membagi waktu untuk berkunjung ke Paris, berbaur dengan para sastrawan dan teman-teman mereka di salon Madame de Tencin, du Deffand dan Geoffrin. Namun dalam interaksi itu, ia dengan hati-hati berusaha menghindari hal-hal yang berbau filsafat. Karena meskipun keyakinan agamanya tidak begitu kuat, pemikirannya tidak punya kesamaan dengan pedoman Voltaire dan teman-temannya yang tidak mengakui adanya Tuhan.

Mulai ketika itu, tujuan besar hidupnya yaitu menulis L`Esprit des Lois, dan seluruh waktu luangnya dalam sanggar terpencil di la Brede disediakannya untuk itu. Adalah sebuah kecerdikan – berdasarkan Montesquieu – untuk menjembatani masa peralihan antara Lettres persanes dengan L`Esprit des Lois dengan menampilkan sebuah karya yang lebih penting dari karya pertama (Lettres Persanes) dan tidak lebih terperinci dari karya yang akan tiba (L`Esprit des Lois). Les Considerations sur les causes de la Grandeur et de la decadence des Romains (Studi perihal Faktor-Faktor Penyebab Kejayaan dan Kemunduran Romawi) dipublikasikan pada tahun 1734 di Amsterdam. Dalam buku ini, Montesquieu memaparkan dengan baik perihal kemajuan gemilang dan keruntuhan perlahan yang dialami kerajaan  dari mulai berdirinya Roma hingga penaklukan Konstantinopel oleh Turki. Ia tidak mengisahkan banyak sekali insiden secara naratif, namun lebih memfokuskan pada mata rantai kekerabatan yang terjalin antar peristiwa, dengan anggapan bahwa para pembaca sudah mengetahui citra banyak sekali insiden tersebut. Berbeda dengan Bossuet yang dahulu telah menyediakan dua adegan dalam karyanya Histoire Universelle untuk menjelaskan rangkaian perubahan di Roma, Montesquieu memaparkan subyek yang sama dengan cara yang lebih luas dan dengan kekerabatan antar fakta yang lebih dekat.

Secara formal, Montesquieu belum mulai menulis L`Esprit des Lois sebelum tahun 1743. Empat tahun kemudian, sehabis naskah tersebut selesai, Montesquieu mengajukannya pada sekelompok sahabatnya, ibarat Helvetius, Fontenelle, dan Crebillon the Younger. Meskipun mereka dengan bunyi lingkaran menolak pempublikasian buku itu, namun Montesquieu tetap menerbitkannya di Geneva pada tahun 1748. Di Perancis, buku itu mendapat sambutan yang tidak akrab dari pendukung maupun penentang rezim Louis XV. Tetapi di negara-negara Eropa lain, terutama di Inggris, buku ini disambut dengan penghargaan yang tinggi.

Dalam L`Esprit des Lois ini Montesquieu mengkaji perihal hukum-hukum masyarakat dan hubungannya dengan pemerintahan, huruf umum dari suatu negara, susila istiadat dan agama yang melingkupinya. Ia berusaha untuk tidak mengkaji banyak sekali bentuk aturan dan menjelaskan artinya, tetapi untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar aturan dan untuk memilih beberapa kondisi yang harus diuji apakah suatu aturan itu diberlakukan untuk kebahagiaan insan dalam masyarakat. Ia mengemukakan pemisahan kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif; mengecam perbudakan, mendukung perlakuan yang lebih lembut pada pelaku kriminal, toleransi antar umat beragama dan kebebasan dalam menjalankan ibadah. Para negarawan pertama Amerika begitu dekat dengan L`Esprit des Lois dan darinya mereka mendapat inspirasi perihal pemerintahan federal. Thomas Jefferson, aktivis Declaration of  Independence, Hamilton, Madison, dan Jay, yang mendukung pembentukan konstitusi baru, mereka semua antusias pada pokok-pokok pedoman Montesquieu. Kesuksesan buku ini terletak pada pengaruhnya yang begitu besar terhadap sistem politik negara-negara dunia.

Ketika merevisi adegan terakhir dari buku ini, ia berujar: “This work has nearly killed me, and now I shall rest and labor no more.” Di penghujung tahun 1745, Montesquieu berkunjung ke Paris dengan maksud menutup rumahnya disana sehingga ia sanggup tinggal tetap menikmati pensiunnya di la Brede. Ketika di Paris, ia diserang demam dan wafat dua ahad kemudian pada tanggal 10 Februari 1755, dan dimakamkan di Gereja St. Sulpice, Paris. Upacara peringatan dilangsungkan untuk-nya oleh The French Academy, The Prussian Academy, dan The British Royal Society. Frederick the Great menunjukkan penghormatan padanya, dan dalam kaitannya dengan titah Lord Chesterfield, The London Evening Post menyatakan penyesalan atas kematiannya sebagai hilangnya seorang sahabat bagi umat manusia.


3. Pemikiran dan karya-karyanya - Montesquieu

Sebelum menulis karya-karya besarnya, Montesquieu juga menghasilkan beberapa paper dan beberapa goresan pena yang belum rampung yang ditulisnya ketika mencar ilmu di Academy of Bordeaux, diantaranya: Le temple de Gnide, Essai sur le Gout, Dia-logue de Syela et d`Eucrate, Arsace et Ismenie, dan lebih dari seratus surat. Karya-karya ini sudah dikumpulkan dalam: Oeuvres Completes de Montesquieu, diedit oleh Edward Laboulaye (7 vols., Paris, 1875-1879); Melanges Inedits de Montesquieu (Bordeaux, 1892); Voyages de Montesquieu (Bordeaux, 1894-1896); dan Pensees et Fragments Inedits de Montesquieu (Bordeaux, 1899-1901). (“Biography of Montesquieu,” http://www.malaspina.com/site/person_857.asp, susukan 15 september 2004)

Disamping banyak sekali karya tersebut, yaitu tiga karya terbesar Montesquieu yang paling berpengaruh, memakan waktu dan pengumpulan materi yang tidak sedikit, yang menggambarkan pokok pedoman Montesquieu secara utuh, diantaranya adalah:

a. Lettres Persanes - Karya Montesquieu

Lettres Persanes pertama kali dipublikasikan pada tahun 1721 ketika Montes-
quieu berusia tiga puluh dua tahun. Buku ini bercerita perihal tiga orang Persia yang berjulukan Usbek, Rica dan Rhedi; yang mengembara ke Eropa untuk mempelajari gaya hidup dan susila istiadat di Eropa. Pada suatu waktu, Rhedi berhenti di Venice, sedangkan Usbek dan Rica melanjutkan perjalanan ke Paris. Segera sehabis keberangkatan mereka, mulailah terjadi dengan cepat surat menyurat antara pengunjung dari Persia ini dengan istri-istri, para pembantu dan teman-teman mereka di Persia, begitu juga surat menyurat antar pengunjung dari Persia ini sendiri.

Buku ini berisi surat-surat tersebut, tepatnya berjumlah 161 surat dan tidak terdapat uraian dongeng diantara surat yang satu dan yang lain. Masing-masing surat lebih ibarat dengan sebuah karangan singkat yang menggambarkan beberapa subjek ibarat dasar pemerintahan, tradisi religius, gaya hidup dari suatu masyarakat; bahkan ada beberapa surat yang tiba dari sanak saudara, istri-istri, dan para pembantu perihal banyak sekali insiden yang terjadi di Persia.

Melalui surat-surat ini, Montesquieu sanggup dengan bebas menyindir dan mencemooh dengan tajam Raja dan Gereja dengan berpura-pura seperti pengunjung dari Persia itu yang menulis dan beropini demikian. Seperti ketika Usbek berbicara dalam suratnya bahwa ada seorang tukang sulap yang bahkan lebih hebat dari Raja Perancis dengan berkata, “This Magician is called the Pope” dan diteruskan dengan cemoohan lainnya untuk Paus. Pernyataan ini mengakibatkan timbulnya kontroversi ketika Montesquieu dicela sebagai seorang “Unbeliever”.

Alur dari sebagian dongeng dalam buku ini juga cukup menarik. Ketika Usbek dan Rica menikmati masa pencerahan di Perancis selama tujuh tahun, istri-istri Usbek,selir-selir dan para budaknya semakin merasa resah. Yang terjadi kemudian yaitu para istri dan selirnya berselingkuh dengan para budak laki-laki. Dan ketika Usbek mendengar kabar perihal ini dari pembantu kepercayaannya, para perempuan dan budak telah menikmati “kebebasan” yang tidak ingin mereka lepas meski melalui kekerasan. Penggalan kisah ini mengusung wacana perihal kebebasan individu dan bagaimana seseorang seharusnya bereaksi menghadapi situasi semacam itu.

Buku ini tidak hanya sukses sebagai karya sejarah, tetapi juga sebagai karya fiksi, filsafat, politik dan uraian religius; dalam banyak hal berisi realitas masa kini, sebagaimana karya ini berisi realitas pada hampir tiga ratus tahun yang lalu. (“Reviews of Persian Letters,” http://www.fetchbook.info/fwd_reviews/search _0140442812 html, susukan 24 September 2004. )

b. Les Considerations sur les causes de la Grandeur et de la decadence des Romains - Karya Montesquieu

Karya ini diterbitkan pertama kali tahun 1734 di Amsterdam – sebagaimana karya sebelumnya – dengan tanpa nama, yang kemudian direvisi pada edisi 1748. Karya ini merupakan salah satu karya-karya pertama dari semua perjuangan untuk memahami setiap jengkal sejarah Romawi.

Sebagian besar karya ini menggunakan kerangka historis, dimulai dengan asal mula Romawi dan diakhiri dengan keruntuhannya. Keterangan yang terdapat pada ju-dulnya mengindikasikan bahwa Montesquieu kurang tertarik untuk memaparkan seja-rah umum Romawi, atau bahkan juga sejarah kejayaan dan keruntuhannya, tetapi le-bih difokuskan pada klarifikasi perihal sebab-sebab dari kejayaan dan keruntuhan itu.

Kekuatan Romawi awal mulanya menampakkan diri di bawah kekuasaan Raja-Raja pertama dan mencapai puncaknya dalam bentuk Republik di bawah Pompey (sekitar 65 SM), yang “…completed the splendid work of Rome`s greatness.” Namun ketika korupsi menggerogoti Romawi dari dalam, sistem republik tidak sanggup dipertahankan lebih usang dan diganti dengan kerajaan yang menggunakan kebiasaan dan lembaga-lembaga warisan dari Republik. Karena satu dan lain hal, kerajaan mengalami keruntuhannya di final kala ke-4 Masehi.

Kejayaan Romawi mengandung beberapa lantaran diantaranya: kebajikan masyarakatnya, sistem konsul, kebijakan senat, kekuasaan rakyat yang terbatas, konsentrasi perang, kemenangan-kemenangan, pembagian harta rampasan, pembagian tanah yang merata, censorship (pemeriksaan), pembagian kekuasaan politik, dan sumbangan senat terhadap militer dan terhadap politik luar negeri.

Sedangkan kemunduran Romawi antara lain disebabkan oleh merosotnya kerjasama antara rakyat dan militer, kesenjangan ekonomi dan kekuasaan, hilangnya identitas kewarganegaraan rakyat Romawi, yang kesemuanya menciptakan Republik ti-dak mungkin sanggup dipertahankan. Montesquieu juga mencurahkan perhatiannya pada perkembangan paham atheisme, materialisme, dan hedonisme yang mengakibatkan hancurnya moral, agama, patriotisme dan kebajikan masyarakat Romawi. (Montesquieu, “Considerations on the Causes of the Greatness of the Romans and their Decline,” http://www.constitution.org/cm/ccgrd_l.htm, susukan 25 September 2004)

Karya ini menjadi salah satu konsep yang nantinya ia kembangkan dalam L`Esprit des Lois.

c. L`Esprit des Lois - Karya Montesquieu

Karya terbesar Montesquieu yang terdiri dari tiga puluh satu buku ini diterbitkan pertama kali di Geneva pada tahun 1748.

Dalam kata pengantar dan buku pertama, setidaknya Montesquieu mempunyai dua sasaran: untuk memahami perbedaan aturan insan dan aturan dalam kehidupan secara umum, dan memberi sumbangsih dasar bagi terbentuknya pemerintahan yang bijaksana di setiap tempat. Kemudian ia beralih pada pengujian struktur politik sebagai penghambat konflik sosial. Menurutnya, setiap pemerintahan mempunyai hakikat dan prinsip yang padanya aturan haru dihubungkan. Dan jenis-jenis pemerintahan ia kelompokkan pada tiga golongan besar diantaranya Republik (baik Demokrasi maupun Aristokrasi), Monarki dan Despotisme. Persoalan-persoalan di dalam dan luar pemerintahan-pemerintahan tersebut merupakan subjek kasus yang dipaparkan Montesquieu dalam buku kedua hingga dengan buku ke sepuluh. Pada buku kesebelas hingga tiga belas, Montesquieu menganalisis bentuk pemerintahan dengan kebebasan sebagai prinsipnya. Ia menampilkan Inggris sebagai teladan pemerintahan yang objek pribadi dari hukum-hukumnya yaitu kebebasan dalam arti hak untuk melaksanakan sesuatu yang diizinkan hukum. Di adegan ini juga Montesquieu membahas perihal pemisahan kekuasaan yang terdiri dari legislatif, administrator dan yudikatif;yang jikalau disatukan pada orang atau forum yang sama maka kekuasaan akan sangat terkonsentrasi dan akan timbul kesewenang-wenangan. Buku keempat belas hingga delapan belas memaparkan perihal imbas keadaan iklim terhadap bentuk-bentuk perbudakan, dan kekerabatan antara keadaan tanah dan masyarakat primitif.  (David Lowenthal, “Montesquieu,” dalam Leo Strauss dan Joseph Cropsey (ed.), History of Political Philosophy, edisi ke-3 (Chicago: The University of Chicago Press, 1987), hlm. 514,516,522-523,526)
 pengalaman dan kegiatan intelektual Montesquieu ini merupakan hasil adonan dari bebera Biografi Montesquieu - Profil Hidup

Buku kesembilan belas menjelaskan kekerabatan antara aturan dengan prinsip-prinsip moral dan susila suatu bangsa. Buku kedua puluh hingga dua puluh dua menjelaskan kekerabatan aturan dengan perdagangan. Buku kedua puluh tiga membahas kekerabatan aturan dengan jumlah penduduk. Buku kedua puluh empat dan dua puluh lima berbicara perihal kekerabatan aturan dengan agama, dan pada buku kedua puluh enam berisi penyelesaian konflik yang mungkin timbul antar aturan agama (law of religion), aturan kodrat (law of nature), aturan sipil (civil law), aturan politik (political law) dan aturan bangsa-bangsa (law of nations). Pada adegan terakhir, buku kedua puluh tujuh hingga tiga puluh satu, Montesquieu membahas aturan Romawi, Perancis dan Feodal sebagai pemanis tambahan.

Dalam karya ini, Montesquieu memandang aturan sebagai hal yang paling sentral dan paling memilih tingkah laris manusia. Menurutnya, gagasan perihal sistem aturan merupakan hasil dari kompleksitas banyak sekali faktor empiris dalam kehidupan manusia. Setidaknya ada dua faktor penyebab utama yang membentuk General Spirit (watak umum masyarakat) yang sangat memilih struktur sosial politik masyarakat, yaitu faktor fisik dan faktor moral. Faktor fisik yang utama yaitu iklim, keadaan geografis, dan kepadatan penduduk yang menghasilkan akibat-akibat fisiologi dan mental tertentu. Sedangkan faktor moral antara lain berupa agama, kebiasaan, ekonomi, perdagangan, cara berpikir dan suasana yang tercipta di peradilan negara. (Montesquieu, The Spirit, hlm.xv-xix)

Dalam karya ini kita akan mendapat pembahasan yang cukup rumit namun saling berkaitan secara logika. Dan sehabis hampir tiga ratus tahun, karya ini masih tetap menjadi salah satu tumpuan pokok bagi setiap orang yang berkecimpung dalam dunia politik dan pemerintahan

Biografi Montesquieu  - Profil Hidup

Sumber http://www.sarjanaku.com/

Biografi Muhammad Nashiruddin Al-albani - Profil Hidup

0
Biografi Muhammad Nashiruddin Al-albaniy - Profil Hidup

Nama lengkap dia yaitu Muhammad Nāsiruddīn bin Nūh bin Ādam Najāti Abū Abdirrahmān. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Al-albaniy lantaran lahir di Albania tepatnya di Asyqudarah (ibu kota Republik Albania dikala itu) pada tahun 1914 M/1332 H;1 Beliau juga dikenal dengan al-Dimasyqiy lantaran pernah menetap di Damaskus selama kurang lebih lima tahun; Beliau juga dikenal dengan al-Urduniy lantaran Yordania merupakan daerah tinggal dan daerah wafatnya.2 Ia lahir dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Ayahnya Haji Nūh termasuk seorang ulama besar di Albania bermażhab Hanafi. Lingkungan ia tinggal ketika masih muda juga merupakan lingkungan yang kental nafas agamanya, memelihara fatwa dalam segala aspek kehidupan.
Hingga berkuasalah raja Albania dikala itu, yaitu Ahmad Zugū, yang mengadakan perombakan total atas sendi-sendi kehidupan masyarakat yang mengakibatkan goncangan hebat bagi masyarakat Albania dan bagi Al-albaniy sendiri. Ahmad Zugū berkuasa dengan mengikuti langkah Kemal Attaturk di Turki. Di antara bukti kesewenang-wenangan  Zugū yaitu ia mengharuskan wanita-wanita muslimah menanggalkan jilbabnya.3  
Sejak dikala itu orang-orang yang ingin menyelamatkan agama mereka banyak melaksanakan pengungsian, demikian juga keluarga Haji Nūh yang mengungsi ke Syām tepatnya yaitu di kota Damaskus. Pindahnya keluarga al-Albaniy ke Syām bukanlah tanpa alasan tetapi lantaran ayahnya banyak membaca hadis yang mengambarkan perihal keutamaan Negeri Syām secara umum dan kota Damaskus secara khusus, kemudian pindah ke Yordania dan kemudian kembali lagi ke Syām. Setelah itu pindah ke Beirūt  dan terakhir pindah ke Ammān,Yordania.4 Beliau juga pernah menetap di Madīnah al-Munawwarah selama tiga tahun semenjak 1381 H ketika dia mengajar di Universitas Islam Madinah.5
Al-albaniy  selalu menghabiskan waktunya dengan meneliti, menulis dan berdakwah hingga Tuhan memanggilnya pada bulan Jumadil Akhir 1420 H bertepatan dengan tanggal 10 Februari 1999 M dalam usia 86 tahun.
  
2. Latar Belakang Intelektual Muhammad Nashiruddin Al-albani
Kepindahan keluarga Al-albaniy ke Syām merupakan berkah tersendiri bagi al-Albāniy, lantaran di sana al-Albāniy sanggup hidup terbiasa memakai bahasa Arab yakni bahasa yang mutlak harus dikuasai oleh siapa saja yang hendak memahami al-Qur’an dan As-Sunnah
Sesampainya  keluarga al-Albāniy di Damaskus, kemudian al-Albāniy dan saudara-saudaranya masuk pada sebuah sekolah swasta yakni Jam’iyyah al-Is’āf al-Khairi.6 Al-Albāniy menuntaskan studi tingkat ibtidaiyahnya selama 4 (empat) tahun. Setelah  duduk di dingklik ibtidaiyyah, al-Albāniy tidak melanjutkan studinya pada sekolah-sekolah yang ada. Menurut ayahnya sekolah-sekolah umum atau pemerintah tersebut kurang elok mutu pengajaran agamanya, lantaran bersamaan pada dikala itu bergejolak revolusi Syiria yang dihembuskan oleh orang-orang Perancis. Ayah al-Albāniy tetapkan baginya mencar ilmu intensif pada para ulama (Masyaikh). Beliau mencar ilmu pada ayahnya, Fiqih Mażhab Hanafi dan ilmu Saraf, juga tajwid dan al-Qur’an. Beliau juga mencar ilmu sebagian fiqih Hanafi dan secara terfokus membaca kitab Marāqi al-Falāh Syarh Nūr al-Iddah, sebagian kitab Nahwu dan Balaghah modern dan mempelajari buku-buku hadis pada syaikh Sa’īd al-Burhāni. Beliau memperoleh ijazah riwayat dalam ilmu hadis dari seorang tokoh ulama Halab, yaitu Syaikh Ragib al-Tabbakh, sehabis bertemu dengannya lewat mediator Ustaż Muhammad al-Mubarak.7
Muhammad Nashiruddin Al-albani yang kini dikenal sebagai ulama kritikus hadis masa ini yaitu seorang yang dulunya hidup dalam keluarga dengan kondisi ekonomi rendah. Beliau pernah bekerja sebagai tukang kayu yang biasa merenovasi rumah-rumah usang yang telah rusak  dan hancur disebabkan hujan atau salju. Kemudian dia bekerja membantu ayahnya mereparasi jam dan dikala itulah al-Albāniy mendapat waktu yang lebih banyak untuk belajar. Bagi al-Albāniy, pekerjaan ini merupakan nikmat yang dikaruniakan Tuhan padanya, lantaran dengan begitu ia mempunyai kesempatan menghadiri kajian-kajian di masjid. Pada awalnya, al-Albāniy  bahagia membaca buku-buku dongeng Arab, ibarat Al-Zāhir wa ‘Antarah,8 cerita-cerita detektif yang diterjemahkan dalam bahasa Arab, ibarat Archier Lobphin dan lain-lain serta buku-buku sejarah. Buku-buku tersebut ia dapatkan dengan membaca pada toko buku di sebelah masjid. 
Semangat dia dalam mempelajari ilmu-ilmu hadis berawal pada suatu hari di mana ia mendapat majalah al-Manar yang di dalamnya terdapat goresan pena Sayyid Rasyid Rida ketika membahas kitab Ihyā’ ‘Ulūmuddin dengan menawarkan sisi baik juga kesalahan-kesalahan buku tersebut secara ilmiah. Al-Albāniy tertarik dengan goresan pena tersebut lantaran bagi dia gres kali ini  mendapat goresan pena ilmiah ibarat itu. Rasyid Rida juga menyebutkan bahwa Abū Radil Zainuddin al-Irāqi mempunyai sebuah kitab yang berjudul Al-Mugni ‘an Hamli al-Asfār fi al-Asfār fi Takhrīj ma fi al-Ihyā’ min al-Akhbār. Kitab tersebut membahas perihal ‘Ihyā΄ ‘Ulūmuddin dengan meneliti hadis-hadisnya serta memisahkan antara yang şahih dan yang daīf.
 Al-Albāniy mengikuti seluruh pembahasan perihal kitab al-Ihyā’ tersebut hingga akhir, baik dari seluruh edisi majalah al-Manār maupun dari kitab aslinya Ihyā’ 'Ulūmuddin karya al-Ghazali. Al-Albāniy mulai tertarik dengan takhrij yang dilakukan al-Hāfiz al-Irāqi sehingga dia menyalinnya dalam satu naskah atau meringkasnya dengan memanfaatkan kita-kitab ayahnya sebagai rujukan dalam memahami kata-kata absurd lantaran ia yaitu seorang ajam (bukan orang Arab). Hasil salinan dan ringkasan al-Albāniy tersebut mencapai 4 juz dalam 3 jilid mencapai 2012 halaman dengan dua macam tulisan, yang pertama goresan pena biasa dan yang kedua goresan pena yang lebih rapi dan teliti disertai footnote yang berisi komentar, penafsiran makna hadis, atau melengkapi (sesuatu yang dianggap perlu dari goresan pena al-Irāqi). Misalnya jikalau ada kata-kata sulit dia mengambil/merujuk pada kitab Garīb al-Hadīs karya Ibnu al-'Asir, al-Nihāyah dan beberapa kamus.
Kegemaran al-Albāniy terhadap warisan Nabi terus bertambah, demikian pula upayanya dalam memisahkan hadis-hadis şahih dari yang lemah. Hal ini mengakibatkan dia bekerja hanya tiga hari dalam satu ahad selain hari selasa dan jum’at. Karena bagi dia waktu tersebut telah cukup untuk mendapat makanan pokok bagi keluarga dan anak-anaknya. Adapun waktu-waktu selebihnya dia gunakan untuk menuntut ilmu, menulis, dan mempelajari hadis-hadis Rasulullah saw terutama manuskrip hadis yang ada di perpustakaan “Zāhiriyah”. Beliau banyak menghabiskan waktu di perpustakaan sehingga setiap orang pada dikala itu mengetahui kesungguhan dan semangatnya dalam memanfaatkan waktu.

Tidak ibarat pada kebanyakan  ulama atau cendekiawan dikala ini yang gampang mendapat buku-buku yang mereka perlukan dengan cara membeli lantaran tersedianya dana yang mereka miliki, maka Al-Albāniy mendapat buku-buku yang ia cari dari perpustakaan, ibarat perpustakaaan Al-Zahiriyah, al-Arabiyah al-Hasyimiyyah (Ied Ikhwan) milik Ahmad Hamdy dan Taufik. Beliau juga mendapat dari toko buku ibarat milik Sayyid Salim Al-Qusaibasiy dan anaknya Izzat dengan cara meminjam lantaran dia tidak sanggup membelinya.9

Ketekunan dan keuletan al-Albāniy membawa hasil yang sangat besar. Beliau menjadi rujukan para penuntut ilmu, dosen maupun para ulama dalam ilmu hadis khususnya dalam al-jarh wa al-ta'dīl. Keadaan ini menjadikan hasad (kebencian) dari orang-orang yang dengki baik ketika mengajar di Universitas Islam Madinah sehingga dia dikeluarkan dari Universitas tersebut maupun ketika berdakwah di Damaskus, sehingga dia dipenjara pada tahun 1389 H/1968 M.10 Ketika di penjarapun al-Albāniy tetap produktif dan menghasilkan karya yang berjudul "Mukhtaşar Şahīh Muslim"
Dalam penelitian maupun dakwahnya, al-Albāniy memakai metode atau manhaj para salaf ahlus sunnah wal jama'ah. Al-Albāniy juga mempunyai gaya ilmiah tersendiri yang berpijak pada asas-asas yang kokoh, yakni: yang pertama, al-Albāniy mempunyai manhaj (metode) ilmiah yang terang dalam setiap fase pemikirannya yaitu manhaj salaf ahlus sunnah wal jama'ah. Yang kedua,  mempunyai kemampuan berdebat yang ditunjang dengan penguasaan yang berpengaruh terhadap sunnah, asar, dan khabar. Yang ketiga, mempunyai hujjah (argumentasi) yang berpengaruh dalam setiap fatwanya. Yang keempat, mempunyai perilaku yang tegas dalam duduk perkara yang dia anggap benar berdasarkan dalil.11 
Kesabaran, ketekunan dan keuletan al-Albāniy dalam dakwah maupun penelitian hadis mendapat kebanggaan dari para ulama, bahkan para ulama menyebutnya sebagai mujaddid masa ini. Rasulullah SAW bersabda:

إن الله َََيَبْعَثُ لهذه اﻷمةِ على رﺃس كل مائة سنة من يجدد لها دينها

"Sesungguhnya Tuhan mengutus kepada umat ini pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agama mereka"12      

albaniy  lantaran lahir di Albania tepatnya di Asyqudarah  Biografi Muhammad Nashiruddin Al-albani  - Profil Hidup

a.    Guru Muhammad Nashiruddin Al-albani

Meskipun al-Albāniy bukanlah ulama lulusan sebuah perguruan tinggi tinggi namun bukan berarti dia tidak mempunyai guru yang menghantarkannya menjadi spesialis hadis. Dalam kenyataannya al-Albāniy mempunyai guru yang jago dibidang hadis bahasa, juga perihal fiqih.
Di antara para guru al-Albāniy13 adalah:
  1. Haji Nūh Najati (ayah al-Albāniy), kepadanya dia mencar ilmu al-Qur'ān beserta tajwidnya, dan sekilas perihal fiqh Hanafi.
  2. Syaikh Sa'īd al-Burhāniy, kepadanya dia mencar ilmu kitab "Marāqi΄ al-Falāh", beberapa kitab hadis dan ilmu balaghah.
  3. Syaikh Ragib al-Ţabbakh. Darinya al-Albāniy memperoleh ijazah riwayat.

Al-Albaniy yaitu salah seorang tokoh yang telah menghabiskan seluruh isi hidupnya untuk menuntut ilmu, mengajar dan berdakwah. Dengan demikian dia tidak hanya mempunyai puluhan murid bahkan ratusan, meski terdapat perbedaan di antara mereka baik masa, subyek maupun metode pengambilan ilmu dari beliau. Di antara mereka ada yang mengambil ilmu secara pribadi atau melalui mediator kitab, kaset, atau yang lainnya. Namun demikian mereka mempunyai ciri yang sama berupa aqidah yang murni serta mengikuti al-Qur'an dan al-Sunnah sesuai pemahaman al-Salaf al-Şālih.

Di antara para murid beliau:14
  1. Ihsan Ilahi Zahir.
  2. Ahmad al-Sayyid al-Khasysyab, bermukim di Ammān Yordania.
  3. Basim Faişal Jawabirah, dosen Ilmu Hadis di Riyād. 
  4. Hijazi Muhammad Syarīf, bermukim di Mesir. Beliau mendapat kebanggaan dari Al-Albāniy sebagai seorang yang utama dalam ilmu hadis.
  5. Husain Khalid Asyisy, bermukim di Abu Dabi.
  6. Husain 'Audah al-Awayisyah, bermukim di Ammān Yordania.
  7. Hamdi 'Abdu al-Majīd al-Salafy, bermukim di Iraq.
  8. Khairuddin Wanli, seorang penyair populer yang berdomisili di Damaskus, Syām.
  9. Zuhair al-Syāwisy, pemilik penerbit al-Maktabah al-Islāmiy, berdomisili di Beirūt, Lebanon.
  10. Rida Na'san Mu'ţi, menantu al-Albāniy.
  11. Salim bin 'Ied al-Hilāliy, seorang da'i yang pernah berkunjung dua kali ke Indonesia tahun 1422 H dan 1423 H.
  12. 'Āşim bin 'Abdullāh al-Qaryuti, bertugas di sentra pengkajian ilmiah Madīnah al-Munawwarah.
  13. 'Abdullāh Şalih al-Ubailan, bermukim di Saudi Arabia.
  14. Abdurrahmān Albāniy, spesialis dalam bidang pendidikan dan dosen pada sebuah universitas di kota Riyād.
  15. 'Abdurrahmān Abduşşamad, menekuni Syaikh al-Albāniy di kota Halab, Hamah, dan lainnya.
  16. 'Izzat Khiżir, seorang yang diberi wasiat untuk memimpin pemandian mayat al-Albāniy.
  17. 'Ali bin Hasan 'Abdul Hamid al-Halabiy al-Asariy, dia telah berkunjung tiga kali ke Indonesia.
  18. Umar Sulaiman al-Asyqar, berdomisili di Yordania.
  19. Muhammad Ibrāhim Syuqrah, bermukim di Ammān Yordania.
  20. Muhammad Ahmad (Abu Laila al-Asariy), bermukim di Zarqa' Yordania.
  21. Muhammad Ibrāhim Syaibāniy, penulis kitab "Hayah al-Albāniy" dalam dua jilid, bermukim di Kuwait.
  22. Muhammad Jamil Zainu, Menekuni Syaikh al-Albāniy di kota Halab, Hamah dan Ruqah Syiria, seorang dosen di Dār al-Hadīs, Makkah al-Mukarramah.
  23. Muhammad 'Abdurrahmān al-Magrawi, mencar ilmu pada al-Albāniy di Universitas Islam Madinah, berdomisili di Maroko.
  24. Muhammad 'Ied al-Abbasi, salah seorang murid al-Albāniy yang paling usang mencar ilmu pada beliau, bermukim di Riyād.
  25. Muhammad Lutfi al-Sabbāg, seorang doktor dalam bidang pendidikan, bermukim di Riyād.
  26. Mahmūd Mahdi al-Istambuli, penulis kitab "Tuhfah al-Arūs" yang telah diterjemahkan dengan judul "kado pernikahan". Beliau meninggal pada tahun 1420 H/1999 M.
  27. Muhammad Mūsa Ali Naşr (Abū Anas), bermukim di Ammān Yordania. Beliau banyak menulis makalah dalam majalah "al-Aşālah". Beliau juga pernah berkunjung ke Indonesia tahun 1423.
  28. Muhammad Nāşir Tarmanini, salah seorang murid al-Albāniy yang populer di kota Halab Syiria.
  29. Muhammad Nasib al-Rifa'i, dia mencar ilmu pada al-Albāniy di kota Halab.
  30. Mahmūd Aţiyah, bermukim di Syariqah.
  31. Mustafa al-Zarbūl, bermukim di kota Ammān semenjak meletusnya perang teluk.
  32. Mustafa Ismā'īl (Abū Hasan al-Maşri al-Ma'rabi), berdomisili di Yaman.
  33. Masyhur bin Hasan Alu Salman, salah seorang murid al-Albāniy yang banyak mengasilkan karya tulis. Beliau bermukim di Ammān Yordania. Beliau juga pernah berkunjung ke Indonesia tahun 1423 H.
  34. Muqbil bin Hādi al-Wādi'iy, mencar ilmu pada Al-albaniy di Universitas Islam Madinah, dia meninggal di Makkah al-Mukarramah tahun 1422 H.
  35. Walid Muhammad Nabih Saif Naşr (Abū Khalīd), berdomisili di Qatar. Beliau mentahqiq kitab "Al-Syari'ah" karya Imam Ajurri.
  36. Mahfūż Rahmān Zainullah, meninggal di Uni Emirat Arab.


Sebagai seorang pecinta ilmu, al-Albāniy banyak menulis karya-karya seputar hadis maupun seputar duduk perkara fiqih. Karya-karya tersebut selalu diiringi dengan takhrij, ataupun tahqīq, syarh, dan tanqīh atas hadis-hadis yang ada di dalamnya lantaran dia memang seorang yang berkompeten di bidang ilmu hadis. Beliau juga menjadi rujukan para ulama, dosen-dosen dan para penuntut ilmu. Mereka menemui dia dari banyak sekali belahan dunia untuk menimba pelajaran dari ilmu beliau.15

Karya Al-albaniy ada sekitar 218 judul yang menawarkan ketekunan dia dalam ilmu, di antaranya ada yang telah dicetak dan beredar di tengah kaum muslimin dan ada pula yang masih berupa manuskrip.

Karya Muhammad Nashiruddin Al-albani yang sudah dicetak: 
  1. Ādāb al-Zifāf fi al-Sunnah al-muţahharah, (adab–adab perkawinan berdasarkan Sunnah Rasulullah SAW yang suci)
  2. Ahkāmu al-Janāiz (hukum-hukum pelaksanaan jenazah).
  3. Āyāt Bayyināt fi ‘Adami Sama’ al-Amwāt ‘alā Mażhab al-Hanafiyah al-Sādāt (dalil-dalil yang mengambarkan bahwa orang mati tidak mendengar berdasarkan madzhab Hanafi); merupakan karya Imam al-Alusi ra yang diteliti dan ditakhrij hadis-hadisnya oleh Al-albaniy .
  4. Al-Ajwibah al-Nāfi’ah ‘an As'ilah Lajnah Masjid al-Jāmi'ah (beberapa tanggapan atas pertanyaan Lajnah Masjid al-Jamiah)
  5. Al-Ihtijāj bi al-Qadar (Berhujah dengan Takdir ketentuan Allah) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ditahqiq oleh Al-albaniy .
  6. Irwā al-Galīl fi Takhrīj Ahādīs Manāri al-Sabīl. (kumpulan hadis-hadis kitab Manārus Sabīl); karya dia dalam delapan jilid beserta satu jilid indek hadis.
  7. Islahu al-Masājid min al-Bida’i wa al-‘Awāid; karya Imam al-Qasimi yang di-takhrij hadis-hadisnya beserta tanggapan beliau.
  8. Igāsatu al-Lahafan min Maşāyidi al-Syaiţān; karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah yang di-takhrij hadisnya.
  9. Iqtidā’ al-‘Ilmi wa al-‘amal; karya al-Khatib al-Bagdādi yang diteliti kembali  dan di-takhrij hadis-hadisnya serta dikomentari.
  10. Al-Ikmāl fi Asmā’ al-Rijāl; karya imam al-Tibrizi yang di-tahqiq.
  11. Al-Limān; karya imam Abu Bakar bin Abi Syaibah yang di-tahqiq dan di-takhrij hadis-hadisnya serta dikomentari.
  12. Al-Īmān; karya imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam yang di-tahqiq dan di-takhrij hadis-hadisnya serta dikomentari.
  13. Al-Ba’īs al-Hasīs Syarh Ikhtişar Ulūm al-Hadīs; karya Imam Ahmad Syakir yang di-tahqiq dalam dua jilid.
  14. Bidāyatu al-Su'ul fi Tafdīl al-Rasūl; karya Imam al-Izz bin Abdus-Salam yang di-tahqiq dan di-takhrij hadis-hadisnya.
  15. Ta'sīsu al-Ahkām Syarh Bulūgul Marām; karya Syaikh Ahmad bin Yahya al-Najmi yang di-ta’liq. Jilid pertama telah dicetak.
  16. Tahżīru al-Sājid min ittikhāżi al-Qubūr masājid (peringatan bagi orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid).
  17. Tahqīq Ma’na al-Sunnah; karya Sulaiman al-Nadwi yang di-takhrij hadis-hadisnya.
  18. Takhrīj Ahādīs Fadā’il al-Syam wa Dimasq; karya Imam al-Rib’i.
  19. Takhrīj Ahādīs Kitāb Musykilah al-Faqri karya Yusuf Qardhawi.
  20. Al-Ta’qīb ‘alā Risālah al-Hijāb; karya Abul A’la al-Maududi yang dia komentari.
  21. Al-Ta’liqatu al-Radiyah 'alā al-Raudah al-Nadiyyah; karya Siddiq Hasan Khan yang dia ta’liq.
  22. Al-Tankīl bi-mā fī Ta’nib al-Kausari min al-Abaţil; karya al-‘Allamah ‘Abdurrahman al-Mu’allimi yang dia tahqiq dan tanggapi dalam dua jilid.
  23. Jilbāb al-Mar’ah al-Muslimah (Jilbab perempuan Muslimah).
  24. Hijāb al-Mar’ah wa libāsuha fi al-Şalah (Hijab seorang perempuan dalam shalat); karya Ibnu Taimiyyah yang dia takhrij, tahqiq dan ta'liq.
  25. Hajjatu al-Nabiy SAW Kamā Rawāha 'anhu Jabīr wa rawāha 'anhu Siqāt Aşhābihi al-Akābir (Manasik Haji Rasulullah SAW berdasarkan riwayat Jabir dan para sobat terkemuka).
  26. Al-Hadīs Hujjah Binafsihi fi al-aqā’id wa al-ahkām (Hadis Nabi SAW yaitu hujjah bagi ‘aqidah dan hukum).
  27. Al-Hadīs al-Nabawiy; karya Muhammad al-Sabāg yang dia takhrij.
  28. Huqūqu al-Nisā’ fi al-Islām; karya Syaikh Muhammad Rasyid Ridha yang dia ta’liq.
  29. Haqīqatu al-Syiyām (Hakikat Puasa); karya Ibnu Taimiyyah yang dia takhrij hadis-hadisnya.
  30. Difā' 'an al-Hadīs al-Nabiy wa al-Sirah fi al-Raddi 'alā Jahalāt al-Duktūr al-Buţi fi Fiqhi al-Sirah (Pembelaan terhadap hadis Nabi dan sejarah, sebagai bantahan atas kejahilan doktor al-Buţi dalam memahami sejarah perjalanan Rasulullah saw)
  31. Al-Żabbu al-Ahmad 'an Musnad al-Imām Ahmad (Pembelaan yang terpuji atas kitab Musnad Imam Ahmad bin Hambal)
  32. Al-Raddu 'alā Arsyad al-Salafiy (Bantahan terhadap saudara Arsyad al-Salafi)
  33. Al-Raddu 'alā al-Ta'qīb al-Hasīs (Bantahan terhadap kitab Ta'qib al-Hasis karya al-Habsyiy al-Harari)
  34. Al-Raddu 'alā Syaikh Ismā'īl al-Anşāriy fi Mas'alah al-Żahab al-Muhallaq.
  35. Al-Syihab al-Saqib fi Żammi al-Khalīl wa al-Sahib; karya Imam al-Suyuti yang dia takhrij hadis-hadisnya Raf'u al-Asār Li Ibţal Adillati al-Qā'ilina Bi Fana'I al-Nār (Menyingkap tabir-tabir dalam upaya membatalkan argumentasi orang-orang yang beropini bahwa neraka itu tidak kekal- karya Imam al-San'ani)
  36. Mentakhrij kitab "Riyādu al-Şālihīn" karya Imam al-Nawawi.
  37. Su'āl wa Jawāb Haula Fiqhi al-Wāqi' (Tanya jawab seputar memahami realita umat)
  38. Silsilah al-Ahādīs al-Şahīhah wa Syai'un min Fiqhiha wa Fawā'idiha (Kumpulan hadis-hadis sahih beserta fiqihnya)
  39. Silsilah al-Ahādīs al-Da'īfah wa al-Maudū'ah wa Asaruha al-Sayyi'I al-Ummah (Kumpulan hadis-hadis da'if hadis-hadis palsu serta dampak negatifnya terhadap ummat)
  40. Syarhu al-'Aqīdah al-Tahāwiyah; karya Imam Ibnu Abi al-'Izz al-Hanafi yang dia takhrij hadis-hadisnya.
  41. Şahīh Ibnu Huzaimah, karya Imam Ibnu Khuzaimah yang dia takhrij dan baca kembali.
  42. Sahīh al-Adāb al-Mufrad, karya Imam al-Bukhari.
  43. Şahīh al-Targīb wa al-Tarhīb, berjumlah tiga jilid.
  44. Şahīh al-Jāmi' al-Sagīr wa Ziyādatuhu, berjumlah dua jilid.
  45. Şahīh Sunan Ibnu Mājah, dua jilid.
46)    Şahīh Sunan Abū Dāwud, tiga jilid.
47)    Şahīh Sunan al-Tirmīzi, tiga jilid.
48)    Şahīh Sunan al-Nasā'i, tiga jilid.
49)    Mukhtaşar Şahīh Muslim.
50)    Al-Mugni 'an Hamli al-Aşfār fi al-Aşfār, karya al-Iraqi yang dia ta'liq dan takhrij.
51)    Mawāridi al-Suyūţiy fi al-Jāmi' al-Şagīr.

Biografi Muhammad Nashiruddin Al-albani - Profil Hidup

Sumber http://www.sarjanaku.com/
Biografi Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

Biografi Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

0
B.    Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
1. Nama dan Kelahiran al-'Usaimīn 
Beliau yaitu Abū 'Abdillāh Muhammad bin Sālih bin Muhammad bin 'Usaimīn al-Muqbil al-Wuhaibiy al-Tamīmiy. Beliau lahir di salah satu kota di Qasim tepatnya di 'Unaizah pada tanggal 27 bulan ampunan 1347 H29/1928 M. Keluarga tempat Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin dilahirkan merupakan keluarga yang taat dan istiqamah dalam agama. Hal ini turut membentuk kepribadian dia yang cinta ilmu dan peka dengan kondisi serta realita umat di sekitarnya.
Selain didukung oleh lingkungan keluarga yang taat dan istiqamah dalam agama, dia juga dikaruniai kecerdasan dan semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Dua hal inilah yang nantinya turut menghantarkan dia menjadi seorang intelektual muslim yang disegani dan tetap berpegang pada manhaj atau metode ahlu al-Sunnah wa al-Jama'ah. 
Beliau wafat pada hari Rabu 15 Syawal 1421 H/10 Januari 2001 M pukul enam sore dalam usia 74 tahun di rumah sakit Raja Faisal di Jeddah, sehabis dia terjangkit kanker colon/usus besar. Dalam sakitnya, dia sempat berobat ke Amerika untuk beberapa bulan atas desakan pemerintah, namun balasannya dia segera kembali untuk melanjutkan tugas-tugas dia yakni mengajar dan memberi fatwa di kota 'Unaizah dan masjid al-Haram di Makkah.30 
Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin dişalatkan di masjid al-Harām Makkah sehabis şalat 'aşar pada hari Kamis 11 Januari 2001 M dan disemayamkan di pemakaman Al-'Adl di erat makam guru sekaligus teman dia di jalan dakwah, Syaikh Abdul 'Azīz bin 'Abdullāh bin Bāz. Lebih dari setengah juta insan mengiringi mayat dia ke pemakaman. Hal ini memperlihatkan tingginya derajat al-'Usaimīn di mata umat ini bahkan para pembesar kerajaan Arab Saudi turut hadir dalam upacara pemakaman beliau. Di antaranya yaitu Menteri Dalam Negeri Saudi al-Amīr Nayif bin Abdul 'Azīz, Ketua Pusat Pengkajian Strategi al-Amīr Mamduh bin Abdul 'Azīz, Ketua Daerah Qāsim al-Amīr Faisal bin Bandar bin Abdul 'Azīz dan Gubernur Jeddah al-Amīr Musy'il bin Mājid bin Abdul 'Azīz.

2. Latar Belakang Intelektual Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
Karena dia berasal dari keluarga yang cinta ilmu, maka pendidikan dia yang pertama tentunya dia peroleh dari keluarga dia sendiri yakni kakek dia dari pihak ibu  yang berjulukan Syaikh Abdurrahmān bin Sulaimān Ālu Dāmig. Pada kakeknya tersebut al-'Usaimīn mencar ilmu membaca al-Qur'an dan berhasil menghafalnya. Kemudian dia mencar ilmu khat, ilmu hisab (ilmu hitung) dan mencar ilmu sebagian ilmu sastra.31 
Ketika masih kanak-kanak, dia menuntut ilmu kepada dua orang murid Syaikh Abdurrahmān bin Nāsir al-Sa'diy (yakni Syaikh Muhammad bin Abdul 'Azīz al-Muţawwi' dan Syaikh 'Ali al-Şālihiy) yang telah ditunjuk al-Sa'diy untuk mengajar anak-anak. Beliau mencar ilmu kepada keduanya "Mukhtaşar al-'Aqīdah al-Wāsiţiyyah" karya al-Sa'diy dan "Minhāj al-Sālikīn fī al-Fiqh" karya al-Sa'diy pula. Selain itu dia juga mencar ilmu kitab Nahwu dan Saraf "al-Ājurūmiyyah" dan "al-Alfiyah".
Pada tahun 1371 H (dalam usia 24 tahun) dia mulai mengajar di masjid Jāmi'. Kemudian dalam usia 26 tahun (tahun 1372 H) dia masuk Ma'had al-Ilmi di Riyad dan mencar ilmu Şahih al-Bukhāri, beberapa risalah Ibnu Taimiyyah serta beberapa kitab fiqih. Ketika itu ma'had Ilmi dibagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Al-'Usaimīn masuk ke bab khusus dan sanggup menuntaskan studi dalam waktu yang lebih cepat alasannya yaitu pada waktu itu berlaku sistem loncat kelas di mana siswa boleh mencar ilmu dikala liburan panjang dan mengikuti tes kenaikan di awal tahun. Dengan demikian al-'Usaimīn sanggup menghabiskan studinya dalam jangka dua tahun. Setelah lulus dari ma'had Ilmi, al-'Usaimīn ditunjuk sebagai guru di Ma'had Ilmi 'Unaizah sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Syari'ah dan tetap mencar ilmu di bawah bimbingan 'Abdurrahmān al-Sa'diy. Beliau lulus dari Fakultas Syari'ah di Riyād pada tahun 1344 H.
Ketika al-Sa'diy wafat, Al-Utsaimin ditetapkan sebagai Imam Masjid Jāmi' di Unaizah, mengajar di maktabah 'Unaizah al-Waţaniyah dan tetap mengajar di Ma'had Ilmi. Kemudian dia pindah mengajar di Cabang Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa'ud Qāsim pada Fakultas Syari'ah dan Uşūluddin. Selain itu al-'Usaimin juga menjadi anggota Hai'ah Kibār al-Ulama Kerajaan Saudi Arabia.32 Beliau juga aktif menawarkan fatwa dan menawarkan pengajian kepada masyarakat umum di banyak sekali tempat di Timur Tengah.

a.    Guru Al-Utsaimin
1)    Syaikh Abdurrahmān bin Nāşir al-Sa'diy.
Beliau wafat pada tahun 1376 H. Seorang mufasir yang masyhur dengan hasil karyanya yang populer "Taisīr al-Karīm al-Rahmān fi Tafsīr Kalāmi al-Manān".     Al-'Usaimin mencar ilmu kepada dia tauhid, tafsir, hadis, fiqh, ajakan al-Fikih, Faraid, Musţalāh al-Hadīs dan Nahwu serta şaraf.33 Al-Usaimīn sangat terpengaruh dengan Syaikh al-Sa'diy dalam hal akhlak, metode tafsir maupun metode pembelajarannya.
2)    Syaikh Abd al-'Azīz bin Abdullāh bin Bāz.
Beliau yaitu seorang mufti dan ketua Dewan Ulama di kerajaan Saudi Arabia. 
Al-'Usaimin mencar ilmu kepada Syaikh bin Bāz: Kitab Şahih al-Bukhāri, beberapa risalah Syaikh al-Islām Ibnu Taimiyah, serta beberapa kitab Fiqih.34
3)    Syaikh Muhammad al-Amīn bin Muhammad al-Mukhtār al-Jukniy al-Syinqītiy (wafat pada tahun 1393 H).
Beliau yaitu seorang mufasir dan andal bahasa dimana karyanya yang populer dalam bidang tafsir yaitu "Adwāu al-Bayān fi īdāhi al-Qur'ān bi al-Qur'ān".
4)    Syaikh Ali bin Hamd al-Şālihiy.
5)    Syaikh Abdurrahmān bin Ali bin 'Audān.
6)    Syaikh Muhammad bin Abdul 'Azīz al-Muţawwi'.
7)    Syaikh Abdurrahmān bin Sulaimān Ālu Dāmig (kakek Al-Utsaimin dari pihak ibu).



b.    Karya Al-Utsaimin
Al-Utsaimin mempunyai karangan lebih dari 50 buah, baik dalam bidang aqidah, fikih, uşūl al-fiqh maupun retorika dakwah. Hal ini memperlihatkan kesungguhan dan kecintaan dia dalam ilmu. Di antara karya Al-Utsaimin ada yang  berupa risalah maupun kitab sebagai berikut :35 
  1. Ahkāmu al-Şiyām wa al-I'tikāf
  2. Ahkām al-Udhiyah wa al-Zakāh
  3. 'Aqīdah Ahli al-Sunnah wa al-Jamā'ah
  4. As'ilah Muhimmah
  5. As'ilah Hāmmah
  6. As'ilah wa Ajwibah fī Şalāti al-'Iddain
  7. Al-Fatawa al-Żahabiyah fī Bai'i wa Syirā'i al-Żahab
  8. Al-Ibda' fī Bayāni Kamā li al-Syar' wa Khaţaru al-Ibtidā'
  9. Al-Jihad
  10. Al-Khilāf baina al-'Ulamā': Asbābuhu wa Mauqifunā Minhu
  11. Al-Lami' Min al-Khuţabi al-Jawāmi'
  12. Al-Majmu' al-Sāminu fī Fatawa al-Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
  13. Al-Manhāj li Murīdi al-Hajji wa al-'Umrah
  14. Al-Mar'ah al-Muslimah: Ahkāmu Fiqhiyyah Haula al-Hijāb
  15. Al-Mashu 'ala al-Khuffain
  16. Al-Mudayanah
  17. Al- Al-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab: Hayatuhu wa Fikruhu.
  18. Al-Tafsīr wa Uşūluhu
  19. Al-Uşūl fī 'Ilmi al-Uşūl
  20. Al-Qada' wa al-Qadar
  21. Al-Qawā'id al-Musla fī Şifātillāhi wa Asmāihi al-Husna
  22. Al-Zawāj
  23. Al-Zawāj fī al-Syari'ati al-Islāmiyyah (Musyatarak)
  24. Fatawa al-Mar'ah al-Muslmah
  25. Fatawa al-Mashu al-Khuffain
  26. Fatawa al-Nisāiyyah
  27. Fatawa Haula Fitan al-Jarā'id wa al-Majallāt
  28. Fatawa Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
  29. Fathu Rabbi al-Bariyyah bi Talkhīşial-Hamawiyyah li Syaikhi al-Islām Ibni Taimiyyah. Merupakan kitab yang pertama kali disusun Al-Utsaimin sebagai ringkasan dari kitab "al-Hamawiyyah" karya Ibnu Taimiyyah. 
  30. Fitan al-Majallāt
  31. Fuşūl fī al-Şiyām wa al-Tarāwih wa al-Zakāh
  32. Ila Mata Hāża al-Khilāf
  33. Khuţābun fī al-Ţaharah wa al-Şālah
  34. Khuţābun fī al-Şiyām wa al-Zakāh
  35. Khutbah 'Īdi al-Fiţri wa 'Īdi al-Adha
  36. Majāli al-Syarhi Ramadān
  37. Min Musykilati al-Syabāb
  38. Mukhtarātun min Zādi al-Ma'ād
  39. Musţalah al-Hadīs
  40. Nubżah fī al-'Aqīdati al-Islāmiyyah (Syarhu Uşūli al-Īmān)
  41. Risālah al-Hijāb
  42. Risālah fī al-Da'wah Ilallah
  43. Risālatāni Mufīdatāni
  44. Rasāil fī al-'Aqīdah
  45. Risālah Fiqhiyyah fī Sujūdi al-Sahwi
  46. Risālah fī al-Wudū' wa al-Gusli wa al-Şalāh
  47. Rasāil Fiqhiyyah
  48. Risālah fī Hukmi Tāriki al-Şalāh 
  49. Risālah fī Tāriki al-Şalāh wa Fitan al-Majallāt
  50. Risālah Fiqhiyyah (Sujūd al-Syahwi, Ţahārah al-Marīd wa Şalātuhu, wa Mawāqitu al-Şalāh
  51. Samāniyah wa Arba'un Su'ālan fī al-Şiyām
  52. Syarh Lum'ati al-I'tiqādi al-Hādi ilā Sabīli al-Rasyadiy
  53. Şifat al-Wudū'
  54. Şifat al-Hajji wa al-'Umrah
  55. Tafsīr Āyāti al-Kursiy
  56. Talkhīş Kitāb Ahkāmi al-Udhiyah wa al-Zakāh
  57. Tanbīhu al-Afhām bi Syarhi 'Umdati al-Ahkām
  58. Taujihāt Li al-Mu'mināt Haula Tabarruj wa al-Sufūr
  59. Tashīlu al-Farāid
Biografi Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

Sumber http://www.sarjanaku.com/

Biografi Daniel Goleman - Profil

0
Biografi Daniel Goleman Profil - Daniel Goleman yaitu seorang tokoh psikolog kontemporer yang namanya melejit lewat karya monumentalnya “Emotional Intelligence”. Daniel Goleman dilahirkan di Stockton California dan ketika ini tinggal di Berkshires Massachusetts bersama istrinya, Tara Bennet, serta kedua anaknya Fay Goleman dan Irving Goleman.

Latar Belakang Pendidikan Daniel Goleman

Daniel Goleman menuntaskan pendidikan strata satunya (graduate education) di Harvard University dan menerima beasiswa dengan predikat Magna Cumlaude. Adapun strata dua (MA) dan strata tiga (Ph.D) dalam bidang Psikologi Klinik dan Perkembangan Pribadi (Clinical Psychology dan Personality Development) diraih di Universitas Harvard, dan saat  ini Daniel Goleman  menjadi dosen di almamaternya.

Selama dua belas tahun Daniel Goleman mempelajari wacana ilmu otak dan sikap manusia. Hal ini sanggup dilihat dari tulisan- tulisannya pada surat kabar The New York Times dan artikel-artikelnya yang dimuat di seluruh dunia. Berkat tulisan-tulisan Daniel Goleman yang dimuat di surat kabar bergengsi dunia serta usahanya yang giat menghantarkannya banyak mendapatkan penghargaan jurnalistik, termasuk dua nominasi bagi the pulizer prize atas tulisannya di surat kabar tersebut dan career achievement  award (penghargaan prestasi kerja) pada jurnalisme dari American Psycological Association (Asosiasi Psikologi Amerika). Untuk menghargai usahanya dalam mengkomunikasikan ilmu-ilmu ke publik, Daniel Goleman dipilih sebagai anggota pada The American Association to the Advancement of Science (Asosiasi Amerika pada Peningkatan Ilmu atau Sains).

Kegigihan berkarier dalam bidang keilmuan menimbulkan Daniel Goleman   sebagai penasehat internasional dan menjadi dosen di berbagai  pertemuan-pertemuan bisnis dunia dan kelompok-kelompok profesional di kampus-kampus ilmiah (perguruan tinggi).

Daniel Goleman juga menjadi pendiri Emotional Intelligence Services (pelayanan intelligensi emosional) serta pendiri Collaborative for Social and Emotional Learning (Kolaborasi Pelajaran Sosial dan Emosional) pada The Yale University Child and Studies Center kini menjadi The University  Ilionis di Chicago yang bertujuan untuk memperkenalkan pelajaran-pelajaran literasi emosional di sekolah-sekolah dan salah satu tanda keberhasilan usahanya yaitu adanya ribuan sekolah di seluruh dunia  mengimplementasikan  agenda ini.
Pemikiran Daniel Goleman sebelumnya banyak dipengaruhi oleh David C Mc. Clelland (almarhum), dia seorang profesor di Harvard University. Daniel Goleman sendiri mengakui dalam karyanya bahwa sebagian besar bukti yang menjadi dasar kesimpulan penelitiannya yaitu dari penelitian beliau. Daniel Goleman mengakui bahwa pandangan visioner profesornya wacana sikap dasar kecakapan dan upayanya yang gigih untuk mencari kebenaran telah usang menjadi ilham bagi dirinya.

Daniel Goleman juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran riset Yoseph Ledoux, spesialis saraf di Center for Neural Science di New York University. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pemikiran dia dijadikan referensi dan wawancara yang sedang dilakukan oleh Daniel Goleman. Daniel  juga banyak bekerja sama dengan istrinya tercinta yang seorang psikoterapi dalam perjalanan intelektualnya. 

 yaitu seorang tokoh psikolog kontemporer yang namanya melejit lewat karya monumentalnya  Biografi Daniel Goleman - Profil


Hasil Karya Daniel Goleman
  1. Emotional Intelligence
  2. Working With Emotional Intelligence
  3. Vital Lies
  4. Simple Truth The  Medicative Mind
  5. The Creative Spirit (penulis pendamping)
  6. Primal Leadership
  7. The Emotionally Intelligent Work Place

Di antara karya intelektualnya yaitu Emotional Intelligence dan Working With Emotional Intelligence merupakan karya monumental Dainel Goleman. Kedua buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Buku Daniel Goleman beredar dan tersebar luas di banyak sekali negara baik di negara barat maupun negara timur. Dan buku sensasionalnya yang berjudul Emotional Intelligence yang diterbitkan pada tahun 1995 merupakan salah satu buku “best seller” dan sudah diterjemahkan ke dalam tiga puluh bahasa, di Eropa, Asia, dan di Amerika terkopi lebih dari lima ribu kopian.
Biografi Daniel Goleman Profil

Sumber http://www.sarjanaku.com/

Biografi Zakiah Daradjat - Profil

0
Biografi Zakiah Daradjat Profil -  Kampung Kota Merapak kecamatan Ampek Angkek, Bukit Tinggi  pada tahun tiga puluhan merupakan sebuah wilayah hening dan religius. Orang-orang menjalani hidupnya dengan perasaan aman, tanpa ada perasaan takut maupun khawatir terhadap kejahatan apapun.  Jika datang waktu sholat, orang bergegas pergi ke masjid menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Begitu kondusif dan religiusnya, sehingga penduduk kampung ini dengan tenang tanpa rasa khawatir sedikitpun sanggup meninggalkan rumahnya, meskipun tidak dikunci.


Zakiah Daradjat dilahirkan di ranah Minang, tepatnya di kampung Kota Merapak, kecamatan Ampek Angkek, Bukit Tinggi, pada tanggal 6 November 1929. Anak sulung dari pasangan suami istri Daradjat ibn Husein, bergelar Raja Ameh (Raja Emas) dan Rapi’ah binti Abdul Karim, semenjak kecil tidak hanya dikenal rajin beribadah, tetapi juga tekun belajar. Kedua orangtuanya dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ayahnya dikenal aktif di Muhammadiyah, sedangkan ibunya bergiat di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Sebagaimana umumnya masyarakat Padang, kehidupan keagamaan mendapat perhatian serius di lingkungan keluarganya. Keluarga Zakiah sendiri  bukan dari kalangan ulama atau pemimpin agama. Kakek Zakiah dari pihak ayah menjabat sebagai Kepala Nagari dan dikenal sebagai tokoh watak di Lambah Tigo Patah Ampek Angkek Candung. Kampung Kota Merapak sendiri pada dekade 30-an dikenal sebagai kampung relijius. Zakiah menuturkan, “jika datang waktu shalat, masyarakat kampung saya akan meninggalkan semua aktivitasnya dan bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim.” Pendeknya, suasana keagamaan di kampung itu sangat kental.

Dengan suasana kampung yang relijius, ditambah lingkungan keluarga yang senantiasa dinafasi semangat keislaman, tak heran jikalau semenjak kecil Zakiah sudah mendapat pendidikan agama dan dasar keimanan yang kuat. Sejak kecil Zakiah sudah dibiasakan oleh ibunya untuk menghadiri pengajian-pengajian agama. Pada perkembangannya, Zakiah tidak sekedar hadir, kadang kala dalam usia yang masih belia itu, Zakiah sudah disuruh memberi ceramah agama.

 Kampung Kota Merapak kecamatan Ampek Angkek Biografi Zakiah Daradjat - Profil


Latar Belakang Pendidikan Zakiah Daradjat

Pada usia enam tahun, Zakiah sudah mulai memasuki sekolah. Pagi berguru di Standaardshool (Sekolah Dasar) Muhammadiyah, sementara sorenya mengikuti sekolah Diniyah (sekolah dasar khusus agama). Hal ini dilakukan alasannya ia tidak mau hanya menguasai pengetahuan umum, ia juga ingin paling tidak mengerti masalah-masalah dan memahami ilmu-ilmu keislaman. Setelah menamatkan sekolah dasar, Zakiah melanjutkan ke Kulliyatul Muballighat di Padang Panjang.

Seperti halnya ketika duduk di sekolah dasar, sore harinya Zakiah juga mengikuti kursus di SMP. Namun, pada ketika duduk di dingklik SMA, hal yang sama tidak bisa lagi dilakukan oleh Zakiah. Ini alasannya lokasi Sekolah Menengan Atas yang relatif jauh dari kampungnya, adalah di Bukit Tinggi. Kiranya dasar-dasar yang diperoleh di Kulliyatul Mubalighat ini terus mendorongnya untuk berperan sebagai muballighah sampai sekarang.

Pada tahun 1951, sesudah menamatkan SMA, Zakiah meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan studinya ke Yogyakarta. Di kota pelajar itu, Zakiah masuk fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Di samping di PTAIN Zakiah juga kuliah di fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Akan tetapi, Kuliahnya di UII harus berhenti di tengah jalan.

Kemudian pada tahun 1956, Zakiah bertolak ke Mesir  dan pribadi diterima (tanpa tes) di Fakultas Pendidikan Universitas Ein Shams, Kairo, untuk acara S2. Zakiah berhasil meraih gelar MA dengan tesis perihal problema sampaumur di Indonesia pada tahun 1959 dengan spesialisasi Mental-Hygiene dari Universitas Ein Shams, sesudah setahun sebelumnya mendapat diploma pasca sarjana dengan spesialisasi pendidikan dari universitas yang sama. Selama menempuh acara S2 inilah Zakiah mulai mengenal klinik kejiwaan. Ia bahkan sudah sering berlatih praktik konsultasi psikologi di klinik universitas.

Setelah meraih MA, Zakiah tidak pribadi pulang, tetapi Zakiah menempuh acara S3 di universitas yang sama. Ketika menempuh acara S3 kesibukan Zakiah tidak hanya belajar. Pada tahun 1964, dengan disertasi perihal perawatan jiwa anak, Zakiah berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Psikologi dengan spesialisasi kesehatan mental dari universitas Ein Shams.


Perjalanan Karir  Zakiah Daradjat

  • 1 November 1964    Pegawai bulanan Organik, sebagai Ahli Pendidikan Agama, di Departemen Agama (Depag) Pusat.
  • 10 Agustus 1965    Pegawai Negeri Sementara Ahli Pendidikan Agama, Depag.
  • September 1965    Ahli Pendidikan Agama Tk. I di Depag.
  • 28 Maret 1967    Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum pada Direktorat Perguruan Tinggi Agama dan Pesantren Luhur. Pangkat: Ahli Pendidikan Agama Tk. I, Depag.
  • 25 September 1967    Pegawai Tinggi Agama pada Diperta dan Pesantren Luhur, Depag.
  • 17 Agustus 1972    Direktur Pendidikan Agama, Depag.
  • 28 Oktober 1977    Direktur Perguruan Tinggi Agama, Depag.
  • 1 Oktober 1982    Diangkat sebagai Guru Besar IAIN Jakarta.
  • 30 Mei 1985    Anggota Dewan Guru Besar, Depag.
  • 30 Oktober 1984    Dekan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
  • 1983-1988    Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), periode 1983-1988.
  • 25 November 1994    Anggota Dewan Riset Nasional.
  • 1992-1997    Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), periode 1992-1997.            

Aktivitas dalam Lembaga/Organisasi

  • 1970    Salah seorang pendiri dan ketua “Lembaga Pendidikan Kesehatan Jiwa, Universitas Islam Jakarta”.
  • 1970-1974    Andalan Nasional Kwartir Pramuka.
  • 1975    Anggota Pacific Science Association
  • 1978 Okt-1979 Mei    Anggota Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional.
  • 1981-1983    Anggota Dewan Siaran Nasional.
  • 1983 – sekarang    Pendiri dan Ketua “Yayasan Pendidikan Islam Ruhama”, Jakarta.
  • 1990 – sekarang    Salah seorang pendiri dan ketua “Yayasan Kesehatan Mental Bina Amaliah”, Jakarta.
  • 1969- sekarang    Kuliah Subuh RRI
  • 1969 – sekarang    Pembicara dalam Mimbar Agama Islam di TVRI.


Tanda Penghargaan/Penghormatan Zakiah Daradjat

  • Desember 1965    Medali Ilmu Pengetahuan dari Presiden Mesir (Gamal Abdul Naser) atas prestasi yang dicapai dalam studi/ penelitian untuk mencapai gelar doktor. Diterima dalam Upacara “Hari Ilmu Pengetahuan”.
  • 10 Oktober 1977    Tanda kehormatan “Orde of Kuwait  Fourth Class” dari pemerintah kerajaan Kuwait (Amir Shabah Sahir As-Shabah) atas perayaannya sebagai penerjemah bahasa Arab, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto.
  • 16 Oktober 1977    Tanda Kehormatan Bintang “Fourth Class Of The Order Mesir” dari presiden Mesir (Anwar Sadat) atas perayaannya sebagai penerjemah bahasa Arab, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto.
  • 23 Juli 1988    Piagam penghargaan Presiden RI Soeharto atas tugas dan karya dedikasi dalam perjuangan membina serta berbagi kesejahteraan kehidupan anak Indonesia dalam rangka hari anak nasional di Jakarta.
  • 1990    Tanda Kehormatan Satya Lancana karya satya tingkat I.
  • 17 Agustus 1995    Tanda kehormatan Bintang Jasa Utama sebagai tokoh wanita/Guru Besar fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
  • 1996    Tanda Kehormatan Satya Lancana karya satya 30 tahun atau lebih.
  • 19 Agustus 1999    Tanda Kehormatan Bintang Jasa Putera Utama sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia.


Hasil Karya  Zakiah Daradjat

Dalam masa aktif di Depag, Zakiah Daradjat mulai menulis buku di samping mengajar. Karya-karya atau buku karangan Zakiah kebanyakan merupakan kumpulan goresan pena yang diangkat dari kuliah-kuliah dan ceramah-ceramahnya. Selain menulis buku, Zakiah juga ulet menerjemahkan buku. Buku yang diterjemahkannyapun berkisar kepada masalah-masalah psikologi.

a.    Penerbit PT Bulan Bintang
1)    Karangan Sendiri
a)    Ilmu Jiwa Agama, 1970
b)    Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental,1970
c)    Problema Remaja di Indonesia, 1974
d)    Perawatan Jiwa untuk Anak-Anak, 1982
e)    Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia, 1971
f)    Perkawinan yang Pertanggung Jawab, 1975
g)    Islam dan Peranan Wanita, 1978
h)    Peranan IAIN dalam Pelaksanaan P4, 1979
i)    Pembinaan Remaja, 1975
j)    Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga, 1974
k)    Pendidikan Orang Dewasa, 1975
l)    Menghadapi Masa Menopouse, 1974
m)    Kunci Kebahagiaan, 1977
n)    Membangun Manusia Indonesia yang Bertakwa kepada Yang Mahakuasa YME, 1977
o)    Kepribadian Guru, 1978
p)    Pembinaan Jiwa/Mental, 1974
2)    Terjemahan
a)    Pokok-Pokok Kesehatan Mental, 1974
Judul Asli    :    Usus-Shihah an-Nafsiyah
Pengarang    :    Prof. Dr. Abdul Aziz El-Quusy
b)    Ilmu Jiwa; Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Pendidikan, 1976
Judul Asli    :    Ilmu-Nafsi, Ususuhu wa Tathbiqatuhu Fit-Tarbiyah
Pengarang    :    Prof. DR. Abdul Aziz El-Quusy
c)    Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat, 1977
Judul Asli    :    As-Shihah an-Nafsiyah
Pengarang    :    Prof. Dr. Mustafa Fahmi
d)    Bimbingan Pendidikan dan Pekerjaan, 1978
Judul Asli    :    At-Taujih at-Tarbawy wal-Mihany
Pengarang    :    Prof. Dr. Attia Mahmoud Hana
e)    Anda dan Kemampuan Anda, 1979
Judul Asli    :    Your Abilites
Pengarang    :    Virgina Bailard
f)    Pengembangan Kemampuan Belajar pada Anak-anak, 1980
Judul Asli    :     Improving Children’s Ability
Pengarang    :     Harry N. Rivling
g)    Dendam Anak-Anak, 1980
Judul Asli    :    Understanding Hostility  in Children
Pengarang    :    Prof. Dr. Mustafa Fahmi
h)    Anak-Anak yang Cemerlang, 1980
Judul Asli    :    Helping The Gifted Children
Pengarang    :    Prof. DR. Paul Wetty
i)    Mencari Bakat Anak-Anak, 1982
Judul Asli    :    Exploring Children’s Interests
Pengarang    :    G.F. Kuder/ B.b. Paulson
j)    Penyesuaian Diri, Pengertian dan Peranannya dalam Kesehatan Mental, jilid I-II, 1982
Judul Asli    :    At-Takayyuf an-Nafsy
Pengarang    :    Prof. Dr. Mustafa Fahmi
k)    Marilah Kita Pahami Persoalan Remaja, 1983
Judul Asli    :    Let’s Listen to Youth
Pengarang    :    H. H. Remmers/ C. G. Hacket
l)    Membantu Anak Agar Sukses di sekolah, 1985
Judul Asli    :    Helping Children Get Along In School
Pengarang    :    Goody Koonzt Bess
m)    Anak dan Masalah Seks,1985
Judul Asli    :    Helping Children Understand Sex
Pengarang    :    Lester A. Kirkendall
b.    Penerbit Gunung Agung
1)    Kesehatan Mental, 1969
2)    Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, 1970
3)    Islam dan Kesehatan Mental, 1971
c.    Penerbit YPI Ruhama
1)    Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, 1988
2)    Kebahagiaan, 1988
3)    Haji Ibadah yang Unik, 1989
4)    Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, 1989
5)    Do’a Menunjang Semangat Hidup, 1990
6)    Zakat Pembersih Harta dan Jiwa, 1991
7)    Remaja Harapan dan Tantangan, 1994
8)    Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, 1994
9)    Shalat untuk Anak-Anak, 1996
10)    Puasa untuk Anak-Anak, 1996
d.    Pustaka Antara
1)    Kesehatan, jilid I, II, III, 1971
2)    Kesehatan (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), jilid  IV, 1974
3)    Kesehatan Mental dalam Keluarga, 1996
e.    Karangan Bersama
1)    Pelajaran Tafsir Al-Qur’an jilid I, II, III untuk Murid-Murid Madrasah Ibtidaiyyah bersama dengan H.M. Nur Asyik, MA (Bulan Bintang), 1968.
2)    Pendidikan agama Islam untuk SD (6 jilid), bersama dengan Anwar Yasin, M,Ed, Prof. H. Boestami, Ismail Hamid, KH. Nasaruddin Latif, H. Nazar, H. Saaduddin Djambek, Syuaib Hasan. (Mutiara), 1974
3)    Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Menengan Atas (6 jilid), bersama Drs. M. Ali Hasan   dan Drs. Paimun, (bulan Bintang), 1978.
4)    Pendidikan Agama Islam untuk SPG (3 jilid), bersama Drs. M. Ali Hasan (Proyek Pengadaan Buku SPG-Depag. P&K), 1997.
f.    Karangan Bersama Sebagai Tim Pengarang/Penyusun
1)    Pendidikan Agama Islam untuk SD (6 jilid)
Sebagai penanggung jawab (Depag, RI), 1978
2)    Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (6 Jilid)
Sebagai penanggung jawab merangkap anggota (Depag, RI), 1978
3)    Metode Khusus Pengajaran Agama Islam
Sebagai ketua merangkap anggota (Proyek Pembinaan PTA/ IAIN, 1980/ 1981
4)    Metode Pendidikan Agama (C.V. Forum, 1981)
5)    Ilmu Fiqih
Sebagai ketua merangkap anggota  (Proyek training PTA/ IAIN), 1982
6)    Pengantar Ilmu Fiqih II
Sebagai anggota tim penyusun
7)    Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam untuk SMA, 1978
Sebagai anggota tim penyusun
8)    Buku (Naskah) PMP untuk SD, 1976
Sebagai anggota tim penyusun
9)    Buku Pengajaran Agama Islam di Sekolah Dasar, 1967.
Sebagai ketua merangkap anggota tim penulis
10)    Buku Pedoman Pelaksanaan P4 bagi Lembaga Pendidikan Agama Islam Tingkat Tinggi dan Atas, 1981
Sebagai tim penyusun naskah
11)    Buku Perbandingan Agama, 1980
Sebagai ketua merangkap  anggota tim penyusun naskah
12)    Pedoman Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa, 1980.
Sebagai konsultan dan ketua tim editor
13)    Bimbingan Mudah Agama Islam untuk OSIS,1980
14)    Texs Book Methodik Khusus Pengajaran Agama ,1980.
Sebagai ketua merangkap anggota.
15)    Penyusun Ensiklopedia Islam, 1979
Sebagai ketua, penyusun tim redaksi, editor.
16)    Informasi perihal IAIN, 1782.
Sebagai ketua tim penyelenggara, penyusun, penilai.
17)    Buku Statistik IAIN, 1982.
Pedoman umum/ Dasar kerja MPKM dan BPKM
18)    Buku Teks Islam untuk Humaniora, 1981
Sebagai editor dan penyelenggara.
19)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum dan sosial, 1981.
Sebagai editor dan penyelenggara
20)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat, 1981
Sebagai editor dan penyelenggara.
21)    Buku Teks Islam Untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 1981.
Sebagai editor dan penyelenggara
22)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Sejarah, 1981.
Sebagai editor dan penyelenggara.
23)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Kedokteran II, 1982.
Sebagai penanggung jawab
24)    Buku Teks Islam Untuk Disiplin Ilmu Bahasa, 1982.
Sebaga penanggung jawab
25)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Ekonomi, 1982
Sebagai penanggung jawab
26)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Pertanian, 1982.
Sebagai penanggung jawab
27)    Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Psikologi, 1982.
Sebagai tim penyusun
28)    Perbandingan Agama II, 1982.
Sebagai ketua merangkap anggota
29)    Ilmu Tasawuf, 1981.
Sebagai konsultan.

Biografi Zakiah Daradjat - Profil

Sumber http://www.sarjanaku.com/