Kumpulan Cerpen Cinta Sedih

Kumpulan Cerpen Cinta Sedih - Hai sobat Khoerul WEB, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Kumpulan Cerpen Cinta Sedih , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Kumpulan, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Kumpulan Cerpen Cinta Sedih
link : Kumpulan Cerpen Cinta Sedih

Baca juga


Kumpulan Cerpen Cinta Sedih

Cerpen Cinta. Sahabat SE kali ini admin akan sedikit berbagi informasi mengenai cerpen. Cerpen adalah jenis karya sastra yang diparkan atau dijelaskan dalam bentuk tulisan yang berwujud sebuah cerita atau kisah secara pendek, jelas, serta ringkas. Cerpen bisa disebut juga dengan sebuah prosa fiksi yang isinya tentang pengisahan yang hanya terfokus pada satu konflik atau permasalahan. Dalam panulisan sebuah cerpen ada hal yang harus anda perhatikan yakni  Unsur Intrinsik Cerpen


Tema = Tema adalah pokok atau gagasan utama sebuah cerpen.

AlurAlur atau plot adalah rangkaian kronologi peristiwa. Alur dibedakan menjadi alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

Alur maju adalah cerpen dengan peristiwa yang dimulai dari awal sampai akhir.
Alur mundur adalah cerpen dengan peristiwa yang dimulai dari akhir cerita ke awal cerita
Alur campuran adalah alur cerpen yang merupakan gabungan antara alur maju dan alur mundur

Latar atau Setting Latar dibedakan antara latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.
Latar tempat berisi dimana kejadian atau peristiwa dalam cerpen terjadi
Latar waktu berisi kapan kejadian atau peristiwa dalam cerpen terjadi
Latar suasana berisi penggambaran suasana dalam sebuah cerpen

PenokohanDalam penokohan dituliskan tokoh dan watak dari tokoh. Tokoh di sini terbagi atas tokoh utama dan tokoh tambahan
Tokoh utama merupakan tokoh yang melakukan interaksi secara langsung atau terlibat dalam konflik.
Tokoh tambahan merupakan tokoh yang hanya diungkapkan dalam cerpen tanpa adanya interaksi yang dilakukan tokoh atau tokoh yang tidak terlibat dalam konflik.

Sudut Pandang Sudut pandang berisi pandangan pengarang terhadap cerpen, bisa saja pengarang menjadi orang pertama atau orang ketiga.
Sudut pandang orang pertama adalah pengarang terlibat langsung atau orang pertama dalam cerita dan ditandai dengan penggunaan kata ganti orang aku, saya, dan sebagainya.
Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang tidak terlibat langsung dalam cerita ditandai penggunaan kata ganti orang dia, mereka, dan sebagainya atau menggunakan nama tokoh. Sudut pandang orang ketiga terbagi atas orang ketiga terarah dan orang ketiga serba tahu.

AmanatAmanat merupakan pesan moral yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui cerpen.

Gaya bahasa = Gaya bahasa berfungsi untuk memberikan kesan yang lebih menarik dengan menggunakan majas. dikutip dari Blog keren

Tokoh dan Penokohan =  Tokoh dan penokohan adalah 2 hal yang berbeda di dalam cerpen. Tokoh merupakan orang-orang yang terlibat di dalam cerpen tersebut. Sedangkan penokohan adalah penentuan sifat atau watak tokoh di dalam sebuah cerpen.

Alur (Plot) = Alur adalah urutan atau jalannya cerita di dalam cerpen yang disampaikan oleh penulis. Dalam menyampaikan jalan cerita, ada beberapa tahapan alur yang disampaikan oleh sang penulis, yaitu:  1. Perkenalan 2. Penanjakan 3. Klimaks 4. Anti klimaks 
Tahap-tahap terebut harus ada di dalam sebuah cerita agar cerita tersebut tidak membingungkan. Dibawah ini adalah cerpen cinta sedih yang admin akan sajikan dari berbagai sumber blog-bloger mastah yang cukup keren, yuck kita simak dibawah ini:

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta Sedih

Semua Tentang kita
Karya Putri Ayu Paundan

Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia. 
“Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku
“gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.”
Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya.
“sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.”
“tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.”
Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya .
***

Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku.
“sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya.
Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku.
“lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.”
“iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.”
“ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas
Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali.
***

Pagi hari di kelas,
Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata.
“sya...” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku
“apaan za?’’ kataku
“sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.”
“terus?”
“kok terus?” 
“iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?”
“adalah ”
“apaan?” tanyaku sinis
“dia masi nungguin lo.”
“oh.” Jawabku singkat
“dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?” 
“ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.”
“yaa lo tanya lah kabarnya gimana?” 
“ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel
“gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ”
“harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya...gue malah kecewa banget.”
“yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.”
“lo jujur amat si za, aaaah tau deh.”
***

Hari terus berganti, meninggalkan semua kisah yang ada begitupun kisah ku dengan arya , aku bertekat untuk melupakannya. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. Setiap kali aku berdoa, mendoakannya untuk kembali bersama ku lagi seperti dulu tapi itu semua tak mungkin. Aku memang mencintai arya, tetapi tak pernah arya jujur akan rasa sayang dan cintanya kepadaku, selalu eza yang bilang kepadaku setiap kali arya curhat kepadanya. Aku bingung dengan semua ini, mencintai seseorang tanpa sebuah kepastian yang pasti.
Tuhan..... jika memang dia yang terbaik untukku, jagalah dia disana tuhan...
Jagalah hatinya untukku, dan jagalah hatiku untuknya...
Aku disini hanya bisa mendoakannya, melihat nya dari kejauhan...
Ini berat untuk ku jalani Tuhan... jauh dari seseorang yang aku sayangi.....
Aku menyayangi dan mencintainya... tabahkan hatiku Tuhan...
Tuhan .. hanya satu pintaku, jagalah iya saat aku jauh dari sisinya.... :’)
Setiap malam setiap ada kesempatan aku berdoa dan menangis, akankah cintaku padanya akan kembali seperti dahulu menjalani hari-hari dengan penuh canda maupun tawa. Cinta ini membunuhku...kau adalah mimpi takkan pernah ku gapai.
***

Sebentar lagi liburan semester tiba, 6 bulan sudah berlalu. Sebenarnya momen-momen itulah yang selama ini ku tunggu. Karna liburan sekolah Arya pasti pulang ke Jakarta dan ada kemungkinan kita akan bertemu lagi. Tetapi , mendengar kabar kalo Arya pasti akan pulang ke Jakarta hatiku biasa saja. Tidak ada getaran-getaran seperti dulu saat aku bersamanya, mungkin karena selama 6 bulan ini aku sudah terbiasa tanpanya, yaa meskipun awalannya aku sangat terpukul dan kecewa juga sedih. Tapi sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang bisa menggantikan hati Arya di hatiku yaitu Aka sudah 6 bulan juga aku mengenalnya. Aka datang di kehidupanku ketika hatiku sedang hampa dan kosong tanpa arah. Dia menyembuhkan luka di hatiku, awalnya aku memang tak bisa melupakan Arya karna bagaimanapun juga Arya akan selalu tinggal di hatiku. Saat kepergian Arya, Aka lah yang selalu menemani hari sepiku selama 6 bulan aku mengenal Aka, bagiku dia adalah seorang cowok yang baik , pengertian, dan sabar. Sudah 3 kali Aka menyatakan perasaannya padaku , tetapi tak pernah ku jawab aku hanya bilang kepada aka kalo aku masih mengejar sesuatu. Aka pun mengerti, walaupun dia tak pernah tau aku masih menunggu seseorang , yaitu Arya. Dan Aka masih setia menunggu hatiku. Dan akupun janji akan menjawabnya, aku menerima cintanya atau tidak saat ulang tahun Aka nanti.
***

Pagi di sekolah, 
“besok kita bagi rapot sya.” Kata dewi sahabatku
“iya , gue takut nih jadinya masuk jurusan apa wi.”
“udah yakin lo pasti IPA. “
“yaa mudah-mudahan aja kalo kita bisa satu kelas lagi, lo IPA dan gue juga.”
“amiin.”
“haaai semua.” Sapa eza sambil duduk di sebelahku
“apaan si za, JB JB aje.” Kata ku
“hahaha.... lagi ngomongin apaan si? Serius amat?” eza tertawa pelan
“jurusan za...” kata dewi 
“oh gitu yaa... lo pasti mah IPA, kalo gue sih maunya IPS.”
“yaa amin-amin mudah-mudahan kita masuk yaa.” Kataku
“iyaa amin .” kata mereka berdua
“eh sya, btw gimana perasaan lo sekarang sama Arya?”tanya eza kepadaku
“yaaah, lo ngomongin Arya lagi.” Jawabku lemes
“dia selau nanyain keadaan lo sama gue sya, ya gue jawab lo baik. Arya juga bilang kenapa dia gak nembak lo. Katanya dia , dia gamau nyakitin lo lagi emangnya lo mau pacaran jarak jauh sama Arya? Arya takut lo nolak dia, kalopun lo nerima dia, kasian elo nya arya gak pernah ada di samping lo . lo tau kan pesantren gimana? Dia pulang juga pas liburan.”
“yaaa.. gue tau. Status menurut gue gak penting. Yang gue mau komitmen za. Kepastian. Dia sayang sama gue tapi dia gak pernah bilang ataupun jujur sama persaannya sama gue. Gimana gue mau percaya sama dia, bisa aja kan dia pacaran disana atau udah punya cewek pengganti gue? Gue yakin za. lagian 6 bulan udah berlalu. Gue mungkin bisa lupain dia, tapi gue gak akan bisa ngelupain semua kenangan tentang kita”
“oh iya, liburan dia kesini sya. Dia pengen ketemu sama lo.”
“gue gamau lah za, udah cukup yang dulu2 gue gamau nantinya keinget dia lagi. Sekarang gue udah punya yang lain, meskipun gue belum jadian sama dia. Tapi kita udah deket semenjak Arya ninggalin gue.”
“siapa?” tanya eza
“aka namanya za, dia ganteng putih jago main basket dan juga jago futsal.” Kata dewi yang menambah pembicaraan suasana menjadi semakin hangat
“serius lo sya?” tanya eza tak percaya
“iya, gue serius dan suatu saat kita pasti akan jadian.” Kataku padanya
“jujur nih gue sya sama lo Arya disana banyak yang nembak dan banyak yang sukain. Lo mau tau semua cewek yang nembak dia banyak, terus dia tolak. Adapun anak SD nembak dia, dan katanya mirip sama lo.”
“terus di terima?” kata dewi sahabat ku, yang duduk di sampingku sembari membaca novel 
“gue belom tau kabarnya. setau gue sih dia belum jawab mau nerima tu cewek apa enggak.”
# Bel pun berbunyi 
***

Pagi hari,
Hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu mama ku sudah bersiap-siap untuk mengambil rapotku. ketika sampai di sekolah , aku berpapasan dengan eza. eza tak melihatku mungkin dia gak sadar seseorang yang berpapasan dengannya itu aku. Setelah pembagian hasil rapot selesai ternyata alhamdullilah akhirnya aku masuk jurusan IPA, jurusan yang selama ini aku cari dan sudah aku rencanakan. 
“sya, tar abis bagi rapot main yuk.” Kata sari teman dekatku
“okeey, siapa aja?” tanyaku
“banyak lah. Pokoknya.”
“okedeh.”
“lo udah bagi rapot?” tanyanya
“udah nih,”
“wesss... ipa nih ye. Slamet yaa.”
“lo emang belom?” tanyaku
“belom, tar abis ini.”
“oh okey, emng kita mau main apa?”
“main UNO aja, hehe lo bawa uno?”
“kagak sii, yaudah gue balik dulu yaa..tar samper gue aja.”
***

Siang hari,
“natasya, ayok berangkat main.. anak-anak udah pada ngumpul. Jangan lupa uno nya.”
Aku naik motor di jemput oleh teman dekat ku sari. Setelah beberapa menit sampai di rumah sabi, akhirnya kita semua main UNO
“sabi, si eza gak dateng?”
“gatau sya, katanya mau pergi.” 
Sabi adalah teman deketku juga , karna rumahnya adalah basecame kami, tempat kami berkumpul dan bercanda bareng
Tak lama sambil kita memainkan UNO , ada suara motor berhenti di rumah sabi. Ici temen ku keluar dan membuka pintu. Ku lihat dari arah jendela ternyata eza, tetapi disana ada seseorang lagi. Memakai helm dan sepertinya aku mengenalnya, Cuma dari jendela tidak terlalu kelihatan. Seseorang itu melepas helm nya dan ternyata... OMG ! batinku...... ternyata seseorang itu adalah...
“sya, ada Arya tuh.”
“hah ? serius lo sab?”
“iya serius gue, tuh anaknya kesini kan.”
Oh Tuhaan.... apa salahku, aku tak ingin bertemu dengannya. Tetapi sekarang kita malah di pertemukan. Apa ini takdirku Tuhan.. untuk bertemu dia lagi. Deg..... tiba-tiba saja terasa jantungku berhenti, getaran ini sudah lama tak kurasakan. Sangat berbeda sekali bila aku dekat dengan aka, tidak ada getaran seperti ini. ada apa ini?” batinku
“sorry sya, dari awal kita semua sudah ngerencanain ini, untuk nemuin lo sama Arya.”
Aku dan arya hanya tersenyum tipis. Tapi aneh sikapnya Arya, dia bener-bener berubah. Dia tak menyapaku. Bahkan menegurku itupun tidak. Apa yang terjadi Tuhan batinku. Apa dia sudah menemukan yang lain? Entahlah.... selama kita semua ngobrol, tetapi aku dan arya tidak juga saling tegur sapa, kenal.. tapi kaya ga kenal.. Arya seperti orang asing dalam hidupku. 
“sya, arya kalian berdua diem aja..” ledek mereka
“ayodong kangen-kangenan apa kek gitu?” kata ici teman dekatku yang juga ikut meledek
“tau lo ya, udah ada orangnya malah di cuekin. Giliran ga ada malah nyariin.”ledek eza
“apaansih lo za, gajelas.” Jawabku sinis
“yee lo berdua tuh cinta, tapi munafik. Sama-sama cinta tapi malu-malu gak ada yang mau mulai duluan. Gininih jadinya cuek-cuekan kalo ketemu.”
Kenapa harus gue yang mulai duluan apa musti gue yang negur duluan? Siapa yang buat salah ? gue kah? Atau dia? Yang ninggalin gue siapa? Yang buat gue sedih siapa? Yang buat gue kecewa dan sakit hati siapa? Harusnya lo sadar Arya ! batinku meringis.
“yaudah lah za, kalo mereka emang mau diem-dieman.” Kata sabi
Aku hanya tersenyum ke arah mereka yang menatapku juga Arya. Setiap kali aku memergoki arya melirikku, dan aku juga meliriknya batinku nangis apa iya arya gak kangen sama aku, atau minta maaf? Tapi apa nyatanya... itu tidak sama sekali !! yang ku lihat dari sorotan matanya masih ada cinta dan rindu dihatinya. Akupun merasakan itu. Tatapannya, masih seperti dulu, dingin tetapi penuh arti dari sorotan matanya penuh keteduhan. Andai saja tatapan ini bisa membunuh, mungkin aku sudah terkapar olehnya.
Akhirnya kita semua main UNO , mainan yang biasa kita mainin kalo gak ada mainan yang bisa dimainin . kita anak SMA tetapi masih main kartu UNO, yaa walaupun UNO buat semua umur. Eza pun membagikan kartu UNO nya. Dan kita semua main. Ternyata seiring berjalannya waktu, pertama sari keluar menang, disusul sabi, disusul eza, dan yang terakhir ici, yang salalu main UNO keringetan. Main UNO aja kok keringetan? Dan yang tersisa hanya aku dan aray. Permainan semakin menegang. Belom ada kepastian siapa yang menang aku ataupun aray.
“ayodong menangin sya.” Teman-temanku menyemangatiku. Begitupun aray yang sibuk dengan kartu-kartunya .
“udeh lo pasti menang deh ray.” Kata eza yang malah membela aray di banding aku
“eh belom tentuu.” Kataku , daaaannnn.....
“UNO ! “ aray mengucapkan kata itu bentar lagi dia menang karna kartunya tinggal satu 4+ ternyata.”
aku pun kalah saat permainan itu. Tapi taapalah ini hanya sebuah permainan, akhirnya kita semua tertawa bersama.
bahagia itu sederhana ... walaupun aku dan aray tak saling tegur sapa bahkan saat bermain aray tak juga menatapku. Tetapi dengan melihat aray tersenyum atas kemenangannya padaku. Aku sudah senang.” #Bahagiaitusederhana aku mungkin saja melupakanmu ketika kau pergi, dan jauh disana..tetapi cinta, perasaan kembali ada ketika kau datang
waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Karna hari sudah sore akhinya kita semua memutuskan untuk pulang. Pertemuan yang sangat singkat antara aku dan juga Aray. Sampai pulang kita berdua juga gak ngobrol dan saling cuek-cuekan. Yaa... itulah aray dingin dan sangat cuek
***

Malam ,
Aku masih teringat pertemuan singkat tadi siang. Ini semua seperti mimpi ataukah aku bermimpi?? Sambil memeluk boneka dan tepar di atas kasur aku memutar kembali saat 6 bulan yang lalu , saat aray meninggalkanku, dan pergi begitu saja tanpa kabar. Dan sekarang dia ada disini menemuiku. Aku tak mengerti apa maksudnya
dret.. dret... ponselku bergetar, tanda sms masuk dan ternyata itu dari Aka.
“natasya.. malem.. apa kabar?”
“hei, baik kok Aka.”
“oh gitu syukur deh.”
“besok bisakan dateng kerumah Aka sya?”
Ya Tuhan.. aku lupa besok tanggal 26 adalah hari ulang tahunnya Aka. Untung saja aku sudah menyiapkan kado untuknya jauh-jauh hari.
“okey, besok natasya dateng kok.”
“mau aka jemput?”
“okeh” diakhiri percakapan pendek itu di sms dan akupun tertidur
***

Esok hari,
Jam 10:00 aka sudah sampai di depan pager rumahku. Aku pun pergi kerumahnya di boncengin naik motor satria nya. Di perjalanan dan di pikiranku kosong, entah apa yang aku fikirkan dan akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan kita pun sampai di perumahan blok A rumahnya Aka, disana sudah banyak temen-temennya yang berkumpul. Juga sahabat ku putri.
“ka. Ini kado buat kamu.”
“yaampun natasya, pake repot-repot.”
“yaa.. gpp kkok.”
Kado yang aku berikan untuk Aka adalah angsa-angsaan biru hasil karya ku sendiri, juga striminan yang bertulisan namanya dan hari ulang tahunnya
“Heemm ikut aku bentar yuk,” tanganku di gandeng aka ke arah taman komplek dekat rumahnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Terlintas tiba-tiba di fikiranku. Aku lupa kalo aku berjanji akan menjawabnya iya atau tidak untuk menjadi pacarnya.
“heem.. mau ngapain ya ka?” tanyaku terbata-bata aku masih tidak tau harus menjawab iya atau tidak untuk menerimanya. 
“adadeh.” Jawab aka
Sesampainya di taman yang indah dan penuh bunga berwarna-warni disana terpampang bunga matahari yang menjulang tinggi juga pohon anggur di sekeliling taman. Di temani teman-teman aka juga putri sahabatku. Karna dialah aku bisa kenal dengan aka, setelah kepergian Arya 6 bulan yang lalu. Di tengah lapangan Aka melepaskan gandengannya.
“natasya, bagaimana dengan jawaban kamu ?”
“jawaban? Jawaban apa?” aku pura-pura tak ingat
“jawaban, apa kamu nerima aku? Atau tidak.”
Jleeeeeeebbbbb................
Ternyata Aka benar menagih janji itu. Aku tak tau kenapa bisa jadi begini. Awalnya aku memang sudah hampir bisa MOVE-ON dari arya, tapi apa? Arya datang kembali di kehidupanku. Menemuiku walaupun itu tidak sengaja bertemu. Tapi apa daya, Aka cowok yang selama ini 6 bulan aku gantungi perasaannya masa iya aku tolak. Cinta diantara dua hati itu tidak mungkin! Aku mencintai arya juga aka..
“natasya, kok diem?” tanya aka
“hah? Iya...apa?” kataku terbata-bata
Temen-temen aka yang menonton dan menyaksikan itu mereka semua menyoraki kita berdua... terima...... terima....... aku bingung saat itu.
“kamu nerima aku atau tidak natasya... aku sayang kamu.” Di raih nya tanganku 
Setelah beberapa menit aku berfikir, akhirnya
“iya Aka, Aku terima.”entah apa yang ku fikirkan tak sengaja aku mengucapkan kata-kata itu, terlambat sudah......
Yeeeeyyyy jadiaaaaan sorak mereka tambah ramai. Orang-orang yang ada di area taman bingung karena saat itu teman-temannya aka berisik dan rame. Meskipun saat itu aku malu. Aku memutuskan untuk menerima aka karna aku juga suka sama dia , walaupun aku masih mengharapkan arya untuk menjadi kekasihku. Tapi itu semua tidak mungkin , arya hanyalah mimpi bagiku takkan pernah ku memilikinya.
“makasih natasyaaaa..... ini boneka taddy bear buat kamu” 
“iya... makasih yaa aka.”
Aku tak menyangka akhirnya aku jadian juga sama aka, bertepatan dengan ulang tahunnya. Dia memberiku boneka taddy bear berwarna warna pink, Teman-teman aka juga memberi memberi selamat ke kita berdua. Taman itu menjadi saksi cinta kita berdua.
***

Kejadian kemarin telah berlalu. Kini aku sudah menjadi milik orang lain . aku mungkin bisa belajar untuk menyayangi aka, namun mungkin tak sepenuhnya karna aku masih mengharapkan cintanya arya entah sampai kapan.
Baru sehari kami berdua jadian, berita itu sudah menyebar sampai ke kuping teman-temanku terutama arya. Arya sudah mengetahui kalo aku sudah jadian , arya pun syok mendengar kabar tersebut yang datangnya dari eza. Eza adalah sahabatku sekaligus sahabat dan teman curhatnya arya . jadi apapun yang terjadi denganku pasti eza tau, dan bakal lapor ke arya. 
Ponselku tiba-tiba berdering , ternyata ada tlp dari ici sahabatku.
“halo?” sapanya
“iya ci, tumben tlp ada apa?” tanyaku
“gpp, Cuma mau mastiin aja.”
“apa?”
“lo beneran jadian sama aka? Cowok yang sering lo ceritain itu ke gue?.”
“iya ci.”
“selamet ya sayang.”
“eh iya makasih.”
“oh iya, arya udah tau lo jadian?”
“udah, sepertinya dari eza.”
“iya, gue juga tau dari si eza . Kirain itu boongan ternyata beneran.”
“iya, itu semua bener. Gue jadian kemaren tanggal 26 pas ulang tahunnya ci.”
“hmmm... lo udah tau kalo arya nyusul jadian setelah lo jadian sama aka?”
“apa..?” Aku tersentak kaget . tak sengaja ponselku ku banting ke arah tempat tidur, dan untungnya tidak ke lantai, ku ambil lagi dan kudengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
“halo sya?”
“ya maaf, tadi hp gue jatoh. Gue kaget abisnya.” Jantungku tiba-tiba saja terasa sesak dan sakit entah kenapa , aku tak mengerti
“jadi gini, hari ini arya jadian sya”
Deeeg......serangan itu kembali ada
“gak, gue gak tau? Emang dia hari ini jadian? Sama siapa?
“sama anak sana yang katanya mirip sama lo, namanya evina.”
“evina? Semoga dia bahagia.” Ku akhiri percakapan itu , walau singkat tapi menyakitkan bagiku. 
sungguh aku tak percaya, dan hari ini tanggal 27, ternyata hari ini jugalah arya jadian sama pacarnya evina. Aku tak mengerti apa maksudnya aray dengan semua ini. Ataukah evina yang katanya mirip denganku itu Cuma sebagai pelampiasannya saja?ataukah arya bener-benar menyayanginya? Entahlah. 
Kini semuanya tlah berakhir, meskipun aku tak mengerti jalan fikirannya arya. Tetapi aku yakin, dihati kecilnya arya meskipun sedikit saja, dia masih menyisihkan tempat untukku dihatinya dan menyimpan namaku dihati kecilnya.. begitupun aku, meskipun aku sudah mempunyai seorang kekasih , dan dialah yang membuatku menyadari. Menunggu itu tidak enak, apalagi orang yang kita tunggu gak pernah mencoba untuk meraih kita.sungguh menyakitkan. Mungkin arya sama sepertiku, menjalani semuanya tetapi tidak apa yang dia inginkan.
***

Tiba-tiba saja ponselku bergetar ternyata tlp masuk . 
“halo?natasya?Sya, hari ini arya mau pulang.”
“pulang?” ternyata sms itu berasal dari sari yang juga teman baikku
“iya pulang, padahal dia baru sebentar di jakarta. Malah belom sempet kangen-kangenan kan sama lo? Eh tapi gak deh lo berdua kan udah sama-sama punya pacar. Tapi gue sih yakin pasti lo berdua masi saling ngarepin iya kan?”
“gak usah nyindir gitu deh sar.”
“haha.. iya maaf” sari tertawa pelan
“oh iya , lo tlp gue Cuma mau ngasi tau kalo dia pulang?’’
“yaa.. gue sedih banget dia hars pulang dan katanya gak akan balik lagi.”
Deeegggg........... tiba-tiba saja air mataku mulai jatuh perlahan setelah mendengar kabar itu dadaku terasa sesak dan saat ini sulit untuk bernafas
“syaa?” panggilnya
“natasya? Lo gak apa-apa kan? Diem aja?”
‘’eh iya sorry apa tadi yang lo bilang, gue gak denger.”
“arya mau pindah dan tinggal di lampung selama 3 tahun. Dia gak akan balik lagi dan pastinya rumahnya yang disini mau di kontrakin.”
“apa?” 
“iya bener, eh udah dulu yaa byee..
Sari mengakhiri percakapannya , aku tak mengerti dengan semua ini.. lagi-lagi arya pergi dan ninggalin aku untuk kedua kalinya, tapi ini berbeda dia gak akan kembali. Ini semua tak mungkin. Ku putar lagu pasto aku pasti kembali, dan lagu itu yang menjadi lagu kita berdua dulu. Teringat aku dan arya sering menyanyikan lagu itu berdua.. di pekarangan sekolah sambil memainkan gitar
Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu.. tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali..
aku pasti kembali.........
***

Pukul 06.00 pagi,
Aku terbangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti menangis tadi malam, mungkin sebabnya mataku sembab dan layu seperti ini. aku tak mengerti mengapa aku menangisinya. Aku tak mengerti apa yang ku tangisi. Cintanya? Ataukah karna arya yang ingin pergi? Entahlah..aku tak mengerti..Seharusnya aku seneng arya pergi dan gak akan kembali lagi, tapi apa nyatanya? Aku malah seperti ini, seharusnya aku sadar aku sudah mempunyai seseorang kekasih begitupun arya.... Aku juga tak mengerti perasaanku gelisah tadi malam, tadi malam aku juga melihat arya tapi aku , aku tak ingat dia ada di mimpiku? Atau dia datang tadi malam. Yang ku ingat dia datang memakai baju putih dan dia tersenyum padaku, dia memegang tanganku dan berbisik. Jangan sedih, karna arya akan selalu ada dihati kamu. Dan kamu selalu ada di hati arya.. mungkin arya gak akan pernah kembali. 
Dret..dret.. hp ku berdering, ternyata ada tlp dari eza aku pun cepat-cepat mengangkatnya..
“sya, udah bangun??’’
“ada apa?gue baru aja bangun.”
“lo udah tau kan arya pergi?”
“iya , gue udah tau dari sari dia yang ngasih tau gue kemaren malem.”
“suara lo kenapa?”
Mungkin suaraku begini adalah efek tangisanku tadi malam , aku tak bisa tidur.. hanya arya yang aku fikirkan tadi malam.
“hah? Suara gue? Gpp, gue lagi sakit tenggorokan biasalah radang.
“bohong, lo pasti abis nangis ya?”
“enggak.” Aku memang berbohong sama eza, karna aku tak ingin kawatir.
“ada apa tlp gue pagi-bagi begini? Tumben?’
“iya, gawat sya penting gawat. Arya barusan aja masuk rumah sakit.”
“apaaa?” aku tersentak kaget dan mataku kini sudah tak mengantuk lagi
“iya udeh lo cepetan mandi. Cepet nanti lo gue anter kerumah sakit gue jemput.”
Aku segera mengakhiri tlp, aku bergegas untuk mandi. Dan setelah aku selesai mandi, dan siap untuk berangkat , tiba-tiba saja terdengar bunyi motor depan pagar rumahku, ku lihat dari jendela ternyata itu eza, aku cepat keluar dan pamit tidak sempet sarapan pagi
“za, ceritain ke gue plis.”
“udah cepet naik , nanti gue ceritaiin di jalan.”
Aku segera naik dan meninggalkan rumah. Aku pergi dengan hati yang cemas, selama di perjalanan aku hanya diam dan diam.
‘’sya, jangan diem aja .”
“jelas aja gue diem.”
‘‘ini adalah bukti kalo lo masih sayang banget sama arya, iya kan?”
“gak. Gue Cuma khawatir” kataku ngeles
“Khawatir? Kalo lo Cuma kawatir, gak akan lo mau pagi-pagi kaya gini disuru kerumah sakit buat liat keadaan arya, padahal lo sendiri udah punya cowok. Tapi lo sendiri malah ngawatirin arya di banding cowok lo”
“jelasin ke gue kenapa arya?”
Hening........ aku tak mengerti kenapa suasana menjadi hening.. keadaan pagi yang dingin ini menusuk tubuhku
“eza?’’ panggilku
“eza, arya kenapa?’’ panggilku sekali lagi cemas
“dia... dia.. “
“dia? Dia kenapa zaa.”
Eza tak juga menjawabnya, setelah setengah jam di perjalanan, tak terasa kita sudah sampai dirumah sakit. Setelah eza memarkirkan motornya, aku dan eza langsung pergi menuju ruang kamar tempat arya dirawat. Aku dan eza melihat teman-temanku sudah rame dan berkumpul di ruang kamar arya, aku tak mngerti mereka semua menangis sampai isek-isekan. Apa yang terjadi? Aku tak mengerti . tiba-tiba saja ditengah kerumunan mereka yang sedang menangis, aku melihat seseorang memakai baju putih keluar dari arah pintu kamar rumah sakit tempat arya dirawat. Aku diam dan tak menghampiri seseorang itu. Ku lihat eza sudah tidak ada disampingku. Aku seperti mengenalnya, wajahnya pucat, lesu, dan dia tersenyum kepadaku. Dia itu arya? Apa dia itu arya? Dia tersenyum padaku? Tapi aku heran mengapa mereka semua masih menangis? Sedangkan arya? Dia baru saja kluar dari arah pintu dan tersenyum padaku.... tiba-tiba saja saat aku ingin menghampiri seseorang itu, seseorang itu hilang? Hilaaaang????? Iya, tiba-tiba saja hilang. Aku tak mengerti kemana bayangan itu pergi.
“natasyaaaa..... “ tiba-tiba ici menghampiriku dan memelukku
“ada apa? kok lo nangis?” tanyaku heran, ici masih saja menangis di pelukanku
“arya syaaa... arya.....gue gk percaya dengan semua ini, padahal waktu kemaren kita abis ngmpul bareng.. gue gsk percaya!”
“arya kenapa? Dia baik-baik ajakan? Barusan gue liat dia keluar kamar dan dia senyum sama gue, tapi anehnya dia langsung pergi dan hilang gitu aja pas gue mau nyamperin dia.. yaa.. barusan .” kataku polos tak mengerti
“apa? “ ici menatapku
“iya seius gue gak boong tuh barusan dia kesana” aku menunjukkan ke arah bayangan itu pergi
“arya itu udah gak ada natasya, dia pergi ninggalin kita semua.. bukan untuk pergi dan tinggal di lampung, tetapi dia pergi untuk selamanya.”
“gue gak ngerti, jelas-jelas gue barusan liat dia.”
“ikut gue,” di tariknya tanganku masuk ruang kamar arya
“lihat,dia udah gak ada, gue gak sanggup dengan semua ini.”
“aryaaaaa... aku menghampiri arya yang terbaring lemas dan kaku, juga pucat dan tangannya begitu dingin.”
“arya, bilang ke gue kalo ini gak bener. Aryaaa buka mata lo, bilang kalo ini gak bener. Kenapa lo gak mau buka mata lo , aryaaa plis.” Aku tak bisa menahan tangis
“arya, plissss arya gue mohon, jangan ninggalin natasya dengan cara seperti ini natasya gamau ditinggal arya, natasya sayang banget sama arya. Arya bilang, kalo ini bohong, tangan arya dingin banget, arya sakit? Arya kedinginan? Tadi arya baru aja senyum ke natasya aryaaa bangun.” 
Saat itu aku tak bisa menahan tangis, tangan arya saat itu dingin banget semua itu bisa ku rasakan. Tetapi dokter langsung membawanya, ku lihat terakhir kali arya tersenyum padaku, ini mimpi? Katakan ini mimpi padaku.
“natasya?’’ seseorang menarik tanganku, entah itu siapa dia langsung memelukku
“ikhlasin dia natasya, dia udah gak ada jangan menangis terus, ikhlasin dia.”
Aku tak bisa menahan tangis, aku sekarang rapuh, aku tak bisa apa-apa dengan kenyataan pahit ini. batinku
“ikhlasin dia natasya, ini semua demi kebaikannya.” Aku masih terhanyut dalam susana dan juga didalam pelukan seseorang itu, ketika aku membuka mata ternyata seseorang itu adalah aka, pacarku yang juga ada disana.. menyaksikan itu semua
“ayok kita keluar, aka jelasin semuanya.”
Teman-temanku masih saja menangis, dan juga ku lihat eza sepertinya dia juga sangat terpukul. Aku mengerti perasaan eza, dan juga teman-temanku semuanya.
Ternyata, aka membawaku ke kursi taman belakang rumah sakit. 
“aka udah denger semuanya sayang.”
“maafin natasya, maafin natasya.” Kataku pelan
“gk usah minta maaf, justru aka yang minta maaf sama kamu. Mungkin kalo kamu denger ini semua kamu nantinya bakalan benci dan marah sama aka, pacar kamu.”
“kenapa kamu ngomong gitu?” tanyaku tak mengerti
“kamu tau? Kamu ingat 6 bulan yang lalu pas arya pergi ninggalin kamu tanpa pamit?”
“iya aku ingat?”
“dia itu pergi ninggalin kamu karna dia sakit, bukan karna dia sekolah di pesantren juga. Dia Cuma nyari alesan yang masuk akal.Selama itu dia pergi untuk berobat kesana-sini. Tapi itu semua gagal. Pengobatan itu sempat berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.”
Hening..... aka melanjutkan ceritanya
“selama dia pergi untuk tinggal di lampung, dia bilang kalo dia pindah ke pesantren.. padahal tidak sayang.. dia pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Dia punya penyakit jantung. Kemaren pas kamu main sama dia sama teman-teman kamu ,mungkin saat itu keadaan arya sudah pulih tetapi , arya drop dan harus pulang dan pindah ke lampung selama 3 tahun untuk menjalani pengobatan. Orang tuanya arya terpaksa pindah kesana, karna tidak mungkin bolak-balik dengan kondisi arya seperti itu lampung-jakarta itu lumayan jauh.”
“selamaya 6 bulan, arya menitipkan kamu ke aku. Karna aku sahabat baik arya sejak kecil. Hanya aku yang tau tentang penyakitnya,selain keluarganya sel. Maafkan aku, natasya... seharusnya dari awal aku jujur sama kamu. Pas kita jadian tanggal 26 kemarin, arya mengetahui kabar itu. Awalnya aku gak enak sama dia, tapi aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu itu semua aku lakuin untuk ngejagain kamu. Pas arya tau kita jadian, dia pesen sama aku , supaya kamu suatu saat nanti dia udah gak ada, kamu harus bisa ngikhlasin dia. Ini semua demi kebaikannya natasya.ini semua udah ada yang ngatur”
“Tadi aku juga menemaninya sbelum ajal menjemputnya. Dia berpesan padaku sayang, katanya dia minta maaf sama kamu dan teman-teman kamu juga. Karna dia gak mau buat kamu sedih juga semuanya. Tadi aku juga udah cerita ke semua teman-teman kamu dan tadi aku suruh eza jemput kamu. Maafin aku terlambat ngasih tau kamu.”
Tangisku semakin tak terkendali, aku tk bisa menahan semuanyaa.... ini semua telah berakhir, dan akupun kini harus membuka hatiku untuk orang lain 
“ aku gak marah sama kamu, aku juga ngerti kalo misalnya aku ada di posisi kamu saat itu. Aku ikhlasin , walaupun aku masih sakit dan sangat terpukul.”
“ya, seharusnya kamu bersikap seperti itu sayang, itu semua udah tuhan yang atur. Kita sebagai umatnya hanya bisa sabar, ikhlas, dan menerima.”


Tuhan... jika ini semua sudah menjadi jalan takdirku,aku ikhlas Tuhan...
Tabahkan aku , berilah tempat yang nyaman disana buat Arya Tuhan...
Sayangi dia, dan meskipun Arya sudah tidak ada di dunia ini. tapi aku masih tetap menyayanginya... sampai nanti ku menutup mata...




Cerpen Cinta: Darahku dan Cintamu



BRIAN menelusuri hiruk pikuk toko emas. Mata Brian melirik ke kiri dan kanan, mencoba mengingat toko emas yang dikunjunginya dua bulan lalu untuk membuat cincin lamaran ke Tania. Toko Sinar Emas. Ya, Brian melihat lagi toko emas itu dan meyakinkan langkahnya untuk masuk ke dalam toko.

Brian menarik nafas panjang dan mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Ingatan Brian kembali tertampar saat membuka kotak cincin berisi cincin emas buat Tania. Cincin emas yang Brian beli saat menerima gaji pertama sebagai seorang pegawai negeri sipil. Cincin sederhana untuk melamar Tania menjadi pendamping hidup dan calon ibu dari anak-anaknya, kelak bersamanya. Namun tak pernah muncul difikiran Brian kalau orang yang dia cintai empat tahun lamanya menolak lamarannya. Dengan alasan, belum siap berjalan beriringan melewati rumah tangga dengan penghasilan Brian yang pas-pasan. Tania seperti menampar wajah Brian dengan bola api kehidupan yang begitu panas, membakar semua harapannya. Lalu Tania pergi meninggalkan hati Brian yang remuk dan berlenggang dengan cantiknya, mencari ambisinya menjadi seorang model. Terlalu sakit saat mengingat akhir cerita dengan Tania dan cincin itu begitu menyesakan dada Brian.  Kini Brian kembali pada toko emas. Hanya untuk membuang semua harapan yang telah hangus terbakar rasa kecewa. Dengan hati yang sangat berat, dia jual kembali cincin cintanya—selama empat tahun—pada Koko Lim yang berbadan putih tambun. Brian pergi secepat mungkin meninggalkan Toko Sinar Emas.

Belum cukup lima belas menit, otaknya di gerogoti kenangan bersama Tania. Ketika dia bilang, “Mas nanti kalau kita menikah aku ingin memiliki dua orang anak. Aku mau anak pertama seorang pria dan anak kedua wanita. Saat mas libur kantor, kita jalan ke Kawah Putih lalu traveling ke Raja Ampat.” Semua tawa, manja dan suaranya menggoda ingatan Brian. Dia putar kembali sepeda motornya menuju Toko Sinar Emas. Brian berlari secepat mungkin ke toko itu untuk mengambil kembali kenangannya yang baru dijual. Namun dada Brian semakin sesak, saat cincin itu sudah tidak terpajang pada etalase toko milik Koko Lim.
“Ko...Maaf cincin yang barusan aku jual itu bisa ku beli kembali?” tanya Brian dengan nafas yang masih belum beraturan.
“Haiya, kamu olang ini bagaimana, balu jual sekalang mau beli lagi, cincin kamu sudah laku.” Koko Lim berbicara dengan dialek aneh mengganti huruf R menjadi L.
“Kalau begitu saya minta nomor telepon pembelinya Ko, bisakan?? Aku mohon Ko...,” pinta Brian dengan memelas.
Melihat wajah Brian penuh dengan raut nasib tak jelas dan aura kesedihan yang mungkin terpancar, bisa dibaca oleh Koko Lim. Dia memberi Brian nota karbon berisi nama dan nomor handphone pembeli cincin kenangannya.

***

Otak Brian masih berfikir apa yang harus dia bilang pada pemilik baru cincinnya itu. Bagaimana kalau dia tak ingin menjualnya kembali pada Brian. Semua pertanyaan itu muncul tanpa bisa Brian jawab. Lalu Brian memberanikan diri menekan nomor handphone—yang ada pada nota pembelian—yang diberikan Koko Lim padanya. Terdengar nada sambung dari balik handphone Brian dan tak lama kemudian suara merdu itu menyapanya.
“Hallo, Assalamu Alaikum!” suara itu menyapa.
“Walaikum salam,  maaf benar ini dengan mbak Chika?” tanya Brian, sedikit gugup.
“Oh iya benar ini siapa yah, mas?” suara itu balik bertanya.
Brian mencoba untuk menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan cincin kenangan itu. Berharap dia sedikit iba dan mau menjual kembali cincin harapannya bersama Tania. Brian tak tahu apa yang ada dalam fikiran Chika. Ia hanya meminta Brian untuk datang ke perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan. Lalu Brian memacu secepat mungkin motornya, bagaikan seorang pembalap F1 yang berlaga di sirkuit.
Tepat sejam Brian sampai depan rumah Chika, rumah yang sangat mewah menurut Brian. Dia disambut oleh satpam rumah yang berwajah garang namun sangat bersahabat, mengantar Brian masuk menemui tuan rumahnya. Brian menunggu Chika diruang tamu yang megah. Brian melihat foto keluarga terpajang dengan ukuran besar di dinding. Terlihat seorang pria setengah baya mengenakan setelan jas begitu berwibawa. Sangat terlihat kalau dia seorang pemimpin dan tepat berdiri disampingnya, wanita cantik mengenakan kebaya berwarna senada dengan gadis imut yang duduk sendiri pada foto mereka. Brian pastikan itulah Chika, gadis yang membawa Brian sampai dirumah ini.
“Kakak Brian, ya?” suara lembut itu mengalihkan penglihatan Brian pada foto keluarganya.
“Iya,” jawab Brian simpel sambil membalas senyuman manisnya.
Brian tak berani menatap mata Chika yang cantik, jantungnya berirama seperti gendang dangdutan. Lalu Brian melihat dijari manis Chika. Ia memakai cincin kenangan Brian, yang seharusnya melingkar pada jari manis Tania bukan jari manis Chika. Ingin rasanya segera melepaskan cincin itu dari jari manis Chika.
“Kakak Brian menginginkan cincin ini kembali?” tanya Chika sambil memamerkan cincin itu dijari manisnya.
“Iya, Ka. Aku kesini memang untuk cincin itu. Aku akan beli berapapun yang kamu minta, tapi kalau boleh jangan terlalu mahal,” jawab Brian sedikit memaksa.
Chika menggeleng. “Aku tidak butuh uang kakak. Aku cuma butuh waktu kakak dua minggu menemaniku kemanapun yang aku mau. Setelah itu kakak Brian boleh mengambil kembali cincin kakak. Bagaimana?”
Brian bingung. Dia menolak permintaan Chika yang aneh“Tapi aku kerja, aku punya tanggung jawab dengan pekerjaanku.” 
“Seminggu kakak ambil cuti dan seminggu lagi kakak temui aku tiap pulang jam kerja,” kembali Chika menjelaskan permintaannya.
Brian tahu Chika punya uang lebih dari yang dia miliki. Dia tidak mungkin menukar cincinnya dengan uang. Dalam hati Brian bertanya, “Kenapa harus aku yang menemaninya?” Permintaan yang harus Brian terima dan menelannya seperti pil pahit, dicekok kedalam mulutnya secara paksa.



Cerpen "Cinta yang tak diduga"



Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Namaku Nisa. Kini aku telah duduk di bangku SMA. Meninggalkan kenangan yang telah lalu. Kenangan yang mungkin menyakitkan, karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Cinta pada orang yang tak pernah mengerti jalan pikiranku, Teuku Ryzki namanya,panggil saja ia Kiki. Mungkin memang salahku, karena aku beranggapan dia membalas cinta itu. Ternyata tidak, aku hanya dapat harapan-harapan kosong seperti kopi tanpa gula.
Tak ku sangka diriku begitu mudah mencintainya. Mencintai orang yang tak pernah mempedulikan aku. Tanpa letih aku berjuang, tapi tak seperti perjuanganku yang ku terima. Sia-sia sudah ini semua. Karena Kiki aku jatuh. Karena ia pula aku terpuruk. Sakit begitu rasa yang telah membekaskan luka ini. Hidup seperti tak berguna lagi bagiku. Tetesan air mata mengalir di pipiku. Membasahi wajah suram tersapukan desir angin. Aku sadar bahwa hidupku bukan untuk dia dan hidup dia bukan untukku. Aku Fikir masih ada sejuta jiwa yang dapat mencintaiku dengan tulus.
Hari-hari aku menjalani ini, memang sulit untuk melupakannya. Dia begitu berarti bagiku. Padahal belum tentu ia memikirkan perasaanku. Tapi, aku yakin bahwa aku bisa mendapatkan penggantinya. Yang pasti orang yang lebih bisa mengerti aku,yang lebih baik dari pada dia.
Hari pertama di SMA membuatku bimbang. Bimbang akan keyakinanku dapat melupakannya. Tapi ada satu hal yang membuatku teguh. Yaitu Aldi, dia sahabat baikku. Yang selalu menemaniku saat senang maupun sedih. Setiap hari dia membangun semangatku agar tetap berjuang. Agar aku tak terpuruk dalam kehampaan hati ini.
Hari itu juga aku berkenalan dengan seorang wanita cantik yang bernama Steffi. Pelaksanaan ospek yang sangat menantang ini membuatku takut. Ada bermacam-macam perintah disuruh bawa benda yang tidak jelas namanya. Ada banyak teman seangkatanku yang dihukum karena tdk memenuhi perintah panitia ospek. Ada yang disuruh mencium tanah basah ada juga yang disuruh nari gangnam style. Memang seru, tapi bagiku tak pernah seru tanpa Kiki. “mbb.. sudahlah lupakan saja Kiki. Lupakan! Lupakan! Lupakan!” gumamku di depan cermin toilet sekolah. Akhirnya ospek selesai, dan bebas dari benda-benda aneh yang harus dibawa maupun bebas ari panitia ospek yang rata rata sudah tidak punya rasa ke peri kemanusiaan.
Awal-awal pembelajaran, rutinitas sekolah hanya perkenalan diri. Karena kelas laki-laki dengan wanita dipisah, Aldi tak sekelas denganku. galau sih, soalnya gak ada temen curhat. Tapi aku juga mendapat teman di kelasku namanya Nita dan ada Steffi pula. Mereka cukup baik, dan ramah. Aku menceritakan semua tentang Kiki dan Aldi, dan menunjukan Aldi pada mereka.
Ternyata, Steffi langsung naksir dengan Aldi. Karena itu aku bermaksud mau nyomblangin mereka. Setelah beberapa minggu mereka pdkt,Aldi bilang ke aku, bahwa dia juga naksir dengan Steffi. Dan akhirnya mereka jadian. Tapi yang terjadi malah tak ada lagi yang kasih semangat buat aku untuk bangkit. Mungkin Aldi sudah melupakan aku. untuk kedua kalinya aku harus jatuh. Jatuh karena dua orang yang penting bagiku sudah pergi meninggalkanku.
Tak peduli apa yang telah terjadi, tiba-tiba aku menjauhi Steffi. Tak tau kenapa, aku marah padanya. Berhari-hari aku tak bersama Steffi lagi. Sampai akhirnya aku mengerti, tak perlu marah karena alasan tak jelas. Dan meminta maaf pada Steffi karena sudah menjauhinya.
Ternyata Steffi dan Aldi sudah putus beberapa hari yang lalu. Terkejut pula, ketika mendengar berita itu. Tak tau kenapa mereka putus. Mungkin karena Steffi sudah punya pacar lagi. Tak mengapa kalau mereka putus, tapi aku kasihan dengan Aldi. “Bagaimana perasaannya sekarang?” gumamku penuh ke khawatiran. Aku menghubunginya berulang kali tapi tak pernah ada jawaban.
Walau bagaimanapun dia sahabat baikku. Kini waktunya aku yang menjadi tempat curhat untuk dia. Beberapa hari Aldi mematikan ponselnya. “Mungkin setelah perasaannya reda dia akan menyalakan ponselnya lagi.” Pikirku. Ternyata memang benar, setelah tiga hari ponselnya gak aktif, dia menghubungiku. Dia curhat denganku tentang Steffi. Tak ku sangka, baru kali ini aku melihat Aldi bersedih hingga begini.
Sekarang Aldi telah berubah, tak seceria dulu lagi. Dia terlanjur suka dengan Steffi. Sedangkan Steffi hanya naksir dan kagum saja dengan Aldi. Waktu itu, Aldi mulai menjauhiku. Karena Steffi atau bagaimana aku tak tau pasti. Yang jelas, dia menjauhiku. Dia satu-satunya orang yang sangat mempedulikan aku. tapi kini Ia sudah pergi.
Hari-hariku semakin hampa tanpa Aldi. Aku tak mengerti apa yang aku rasakan. Kehilangan Aldi lebih menyakitkan daripada kehilangan Kiki. “Aldi, aku mohon jadilah dirimu yang dulu. Aku butuh kamu Ald.” Batinku.
Aku sadar akan ini semua. Ada yang berbeda dari perasaanku. “Apa yang aku pikirkan, Nisa, Nisa, jangan, kamu gak boleh jatuh cinta sama Aldi. Dia itu sahabat kamu sendiri. Dan dia itu sukanya sama Steffi, gak sama kamu. Sadar Nisa, sadar!” ucapku pelan memukulkan tangan ke bantal.
Semakin lama Aldi menjauhiku. Ada apa dengannya, Dia tak seperti biasa. Aku ingin Aldi yang dulu. Tapi semua sudah terlambat. Andai saja aku tak pernah buat Aldi dekat dengan Steffi. Pasti Aldi akan tetap di sampingku. Tetap menjadi sahabat baikku. Dan sekarang, sudah tak ada kemungkinan lagi Aldi peduli denganku. Apa lagi, suka sama aku. tak mungkin, sudah Terlambat.
Meletihkan menyimpan perasaan ini sendirian. Perasaan yang begitu menyakitkan. Membuat jiwaku mati. Walau mungkin, tapi begitu kecil kemungkinannya. Aku menyimpannya, menyimpan perasaan ini hingga awal semester 2 kelas XI. Berhari-hari aku hanya bisa memohon kepada-Nya. Memohon agar Aldi seperti dahulu lagi. Berulang kali aku ingin mengatakan ini padanya. Tapi aku masih ragu akan reaksinya, jika ia mengetahui sebenarnya. Dan sifat Steffi yang selalu aneh ketika aku dekat dengan Aldi.
Karena itu aku mengurungkan keinginanku untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi suatu hari nanti akan ku pastikan dia tau semua tentang perasaanku. Entah kapan itu terucap aku tak tau.
Selama hampir dua tahun aku menahannya. Menahan akan amarah yang mendorongku untuk mengungkapkannya. Walau aku masih dekat dengan Aldi tapi kini ia selalu bercerita tentang Steffi. “Sakit” ya memang sangat “sakit” bahkan, tapi apa boleh buat. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Dia pernah mengatakan padaku bahwa ia akan selalu menunggu Steffi walau Steffi mempunyai incaran lain. Jleebbb, menancap begitu dalam di hatiku. Waktu itu tepat pada ulang tahun Kiki. Aldi hanya mengejekku karena aku tak bertemu dengan Kiki saat hari ulang tahunnya. Padahal aku tak pernah berharap untuk itu. Bahkan sebaliknya.
“Aldi, aku sukanya sama kamu. Bukan sama dia. Tapi mengapa? Mengapa kamu gak pernah merasakan ini? Aku mencintaimu Aldi” batinku menangis membaca sms Aldi. Hanya itu yang aku rasakan ketika dekat dengan Aldi.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini sudah bulan Maret, saatnya memperpadat waktu belajar. Pertengahan Bulan Maret ini, tepatnya tanggal 12 Maret 2013. Aku meminta kepada Aldi untuk tak menghubungiku lagi, karena sekarang Steffi suka lagi dengannya. Alasanku singkat, yaitu aku tak mau merobohkan silaturahmi ku dengan Steffi. Tapi Aldi tak mau melakukannya. Tiba-tiba Aldi menanyakan perasaanku kepadanya. Jelas sekali aku langsung terkejut. Tapi aku bingung akan mengatakan apa. Aku bimbang antara teman atau orang yang aku cintai.
Aldi terus saja menanyakan itu. Dan akhirnya aku mengatakan semuanya, semua yang aku rasakan. “Iya, aku suka sama kamu. PUAS??!” smsku yang aku kirimkan padanya. Dia membalas sms itu dengan bahasa lembutnya yang sering ia gunakan dulu. “Nisa, apakah kamu gak pernah merasakan semua ini. Semua yang aku lakukan itu hanya untuk membuatmu tersenyum. Aku jadian dengan Steffi pun karena aku kira jika kamu bahagia. Andai saja kamu mengatakannya dari awal. Aku tak akan membuatmu bersedih seperti ini. Aku sayang kamu Nisa, jauh sebelum kamu bersama Kiki” pesan manisnya.
Ternyata dugaanku selama ini salah. Aku kira Aldi masih suka dengan Steffi. Tapi itu meleset, dan ternyata Aldi menyukaiku. Air mataku pun menetes perlahan membasahi pipiku. Steffi ternyata sudah punya pacar yaitu Iqbaal. Akhirnya aku dan Aldi membuka lembaran baru di dalam hidupku.
Karya : Qonita Sri P (Ninit)



Demikianlah yang bisa admin sajikan mengenai Kumpulan cerpen cinta mudah-mudahan mata anda tidak kebanjiran walaupun kebanjiran yang perting anda semuanya senang ketika membacanya. Terimakasih semoga bermanfaat. 


Kumpulan Cerpen Cinta Sedih

Sekian postingan kali ini mengenai Kumpulan Cerpen Cinta Sedih , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Kumpulan Cerpen Cinta Sedih dengan alamat link http://www.khoerulweb.com/2015/12/kumpulan-cerpen-cinta-sedih.html

0 Response to "Kumpulan Cerpen Cinta Sedih "

Posting Komentar